"Mungkin patokannya cara berpolitik PD dan cara berpolitik SBY itu santun, memang saya sependapat gaya Bang Ruhut lebih kontroversial dan di luar gaya SBY," kata pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, kepada detikcom, Senin (4/11/2013).
Namun Qodari menilai sikap keras Ruhut tak begitu merugikan elektabilitas Partai Demokrat karena Ruhut bukan politikus yang dianggap berpengaruh di PD.
"Menurut saya mungkin berpengaruh, tapi pengaruhnya minimal. Karena kalau kita kembali ke PD yang menyumbang citra terbesar ya SBY sebagai Presiden dan Ketua Umum tentu menjadi simbol PD," katanya.
Elektabilitas PD, masih menurut Qudari, cenderung turun karena kader tersangkut kasus korupsi. "Sementara sejauh ini Ruhut tidak jadi bagian dari itu, jadi agak sulit menyerang Ruhut dari sisi itu," ungkapnya.
Yang aneh, lanjut Qodari, Ruhut yang dianggap TB Silalahi merusak citra PD justru hampir menempati posisi ketua Komisi III DPR. Padahal Komisi III adalah komisi paling berpengaruh di DPR.
"Kalau dianggap tidak merepresentasikan PD barangkali sudah dikenai sanksi, karena tidak diberi sanksi, pihak luar menilai Pak Ruhut mendapatkan misi khusus atau tugas. Mungkin sebagai stiker," pungkasnya sembari tertawa.
(van/nrl)











































