Serangan politik satu per satu datang mengganggu ketenangan Jokowi. Ketua MPP PAN Amien Rais adalah orang pertama yang bicara keras soal isu pencapresan Jokowi.
"Dengan segala hormat saya, untuk memilih 'lurah' Indonesia, tidak boleh hanya berdasar popularitas," kata Amien saat memberikan kuliah umum bertema "Intervensi Asing dalam Politik Luar Negeri" di aula Fisip Undip Semarang, Selasa (24/9) lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Serangan kedua bagi Jokowi datang dari Ketua FPD DPR yang juga Waketum PD Nurhayati Alie Assegaf. Nurhayati langsung menohok Jokowi dengan maraknya kebakaran di setahun masa kerja Jokowi. Pernyataan keras Nurhayati berbuah kritik tajam dari masyarakat, namun Nurhayati bergeming, ia mengaku tak bermaksud menjatuhkan Jokowi.
Setelah Nurhayati, satu per satu elite PD melancarkan peluru tajam ke Jokowi. Adalah politikus PD Ruhut Sitompul yang menganggap Jokowi gagal memimpin Jakarta. Ruhut bahkan bersuara keras agar Jokowi jangan mimpi jadi presiden.
"Jokowi belajar dululah ngurus Jakarta, nggak usah mimpi jadi presiden," kata Ruhut, Selasa (22/10) lalu.
Wasekjen PD Ramadhan Pohan turut bersuara keras ke Jokowi. Ramadhan menganggap Jokowi masih mentah dan tak layak nyapres.
Serangan-demi serangan ditanggapi Jokowi dengan kepala dingin. "Mau ada partai yang mengkritik, menilai, ya silakan, nggak ada masalah. Saya dikritik apa pun, kalau itu sebuah koreksi, akan kita pakai sebagai evaluasi," ujar Jokowi di Stadion Veledrome, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (24/10/2013).
Serangan-serangan ke Jokowi, menurut pengamat politik Hamdi Muluk, adalah bagian dari kepanikan pihak yang tak ingin Jokowi nyapres. Meskipun banyak juga parpol dan tokoh yang ingin mengusung atau berduet dengan Jokowi di Pilpres 2014 nanti.
Apakah serangan terhadap Jokowi semakin santer menjelang Pemilu 2014? Mungkin ini menjadi alasan PDIP menunda-nunda penetapan capresnya, agar Jokowi tak langsung 'dugunting' di tengah jalan.
(/)











































