Penghasilan Ahdiyat sebagai guru olahraga di SDN 02 Pondok Kopi tidak cukup untuk membiayai pengobatan putranya yang mengidap penyakit astrocytoma. Minimal biaya yang harus dikeluarkan untuk mengobati Faisal sebesar Rp 120 juta.
"Setidaknya biaya itu bisa tercover dari Askes dan JPK, tapi ada batasnya. Jadi yang bisa tercover cuma Rp 70 juta, sisanya ditanggung sendiri," ujar Ahdiat saat ditemui di SDN 02 Pondok Kopi, Jakarta Timur, Rabu (30/10/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini Ahdiyat dan keluarganya terpaksa menempati rumah dinas pemberian sekolah. Rumah sederhana dengan dua kamar dan satu dapur itu sudah ditempati Ahdiyat dan keluarga selama dua tahun terakhir.
"Seharusnya bisa terjual Rp 100 juta, tapi terpaksa kita jual Rp 50 juta supaya kebutuhan obat Faisal tidak terputus. Dan itu pun baru dibayar separuh oleh pembelinya karena kami butuh dana besar segera," tuturnya.
Tingginya kebutuhan Faisal mulai menjelang operasi hingga proses penyembuhan. Untuk pemeriksaan kepala dengan 'CT Scan' harus memakan biaya sebesar Rp 21 juta. Sedangkan untuk biaya operasi sebesar Rp 30 juta.
"Sekarang untuk plafon JPK setiap keluarga Rp 50 juta, tapi kuota itu sudah habis. Karena Askes sekarang tidak seperti dahulu, setiap pemilik Askes dapat menggunakan plafon Askes milik anak atau istrinya," imbuhnya.
Sejumlah uang telah dihabiskan Ahdiat untuk mencukupi kesehatan anaknya. Meski begitu biaya pengobatan operasi tak kalah jauh besarnya. Faisal harus menjalani operasi berikut obatnya harus mengeluarkan biaya hampir Rp 80 juta.
"Selama terapi pasca-operasi, untuk obatnya saja menghabiskan dana sebesar Rp 70 juta untuk 46 tablet Temodal. Alhamdulilah bantuan dari JPK akhirnya hanya Rp 20 juta yang ditanggung, sisanya kami tanggung sendiri," katanya
Pada 6 November mendatang Faisal harus menjalani pengobatan kedua. Ahdiyat terpaksa kembali mencari pinjaman uang.
"Tanggal 6 November nanti harus masuk rumah sakit, setiap 5 hari Faisal harusa dirawat di rumah sakit dengan biaya mencapai Rp 50 juta berikut obatnya," tuturnya.
"Terpaksa gali lubang tutup lubang dengan mengutang pada kerabat dan beberapa orangtua murid," ungkapnya.
Ahdiat sendiri telah berusaha mencoba mencari keringanan biaya pengobatan melalui KJS. Namun usaha itu berakhir penolakan.
"Udah coba ngurus pake KJS, tapi ditolak karena saya PNS golongan IV dianggap penghasilannya dapat mencukupi," ungkapnya.
Sementara sang istri, Ida Dartimah telah diingatkan oleh pihak Rumah Sakit Dharmais untuk menyiapkan pengobatan Rp 130 juta. Namun jumlah uang tersebut tidak tahu harus dicari ke mana.
"Sekarang nggak tahu gimana lagi, ya satu-satunya cuma ada mobil butut. Yah kalau dijual bisa seharga Rp 50 juta," kata Ida.
Sedangkan sisa kekurangannya sebesar Rp 60 juta diharapkan mendapat donor dari orang dermawan. Sementara ini mereka terus berusaha menghibur dan memotivasi semangat hidup Faisal.
"Rp 60 juta lagi, nanti akan kami pikir lagi,” ungkapnya.
(edo/rmd)










































