Tapi Faisal harus menunda keinginannya menuntut ilmu lebih tinggi gara-gara kepalanya terhantam batu saat menunggu angkot di daerah Pancoran. Entah siapa yang melempar batu itu, namun tidak ada luka yang perlu dikhawatirkan.
"Kejadiannya 2 tahun lalu, waktu itu dia baru pulang dari pengajian majelis. Lagi nunggu angkot Faisal terkena timpukan batu nggak tahu waktu itu ada tawuran atau nggak," ujar sang Ayah, Ahdiat Suryawan, saat ditemui di rumahnya Jalan Robusta IV, Pondok Kopi, Jakarta Timur, Rabu (30/10/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Waktu itu dia muntah-muntah gejalanya mirip tifus, kebetulan adiknya juga lagi sakit tifus. Pas dibawa ke Rumah Sakit Islam, dokter bilang kalau di kepala Faisal ada pengumpalan darah," ujar ayahnya.
Seperti terhantam palu godam, Ahdiat seperti tidak percaya jika dokter rujukan di RS Dharmais meminta Faisal untuk segera dioperasi. Resiko terbesar yang harus ditanggung Faisal jika operasi tidak berjalan sesuai rencana adalah kelumpuhan.
Rambut Faisal yang biasa beriak kala dirinya mengejar bola sudah berkurang karena efek pengobatan. Belum tahu apakah Faisal kembali bisa men-dribbling bola lagi di lapangan tengah dengan penuh energi, Ahdiat fokus pada pemulihan anak ketiganya itu.
Ahdiat bersyukur operasi yang dilangsungkan pada tanggal 27 Agustus 2013 berlangsung lancar. Usai operasi, Faisal bisa menggerakkan tubuhnya dan kondisinya terus membaik.
"Sekarang sudah boleh pulang, tapi dokter meminta kami untuk kembali di rumah sakit untuk memastikan kondisi kesehatan Faisal," ungkapnya.
(gah/rmd)











































