Arafat & Perjuangannya Menuju Negara Palestina Merdeka
Kamis, 11 Nov 2004 12:43 WIB
Jakarta - Yasser Arafat telah meninggal dunia pada usia 75 tahun. Banyak catatan sejarah yang telah diukir pemimpin veteran yang memperjuangkan negara Palestina itu. Mohammed Yasser Abdul-Ra'ouf Qudwa Al-Husseini, lebih dikenal sebagai Yasser Arafat, merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara. Ia dilahirkan pada 24 Agustus 1929 di Kairo, Mesir. Ayahnya, seorang pedagang tekstil, warga Palestina keturunan Mesir. Ibunya yang berasal dari keluarga Palestina di Yerusalem, meninggal ketika Yasser, begitu Arafat dipanggil waktu itu, berusia lima tahun. Ia kemudian dibesarkan oleh keluarga pamannya di Yerusalem yang ketika itu dikuasai Inggris.Setelah empat tahun tinggal di Yerusalem, ayahnya membawa Arafat kembali ke Kairo. Di sana Arafat beserta adik-adiknya diasuh oleh kakak perempuan mereka. Arafat tidak pernah menyebut-nyebut ayahnya, yang tidak begitu dekat dengan anak-anaknya. Arafat juga tidak menghadiri pemakaman ayah kandungnya itu pada tahun 1952 silam.Di Kairo, sebelum usianya beranjak 17 tahun, Arafat menyelundupkan senjata ke Palestina untuk digunakan melawan pasukan Inggris dan Yahudi. Pada usia 19 tahun, ketika perang antara Yahudi dan negara-negara Arab, Arafat meninggalkan studinya di Universitas Faud I (kemudian menjadi Universitas Kairo) untuk berperang melawan pasukan Yahudi di daerah Gaza. Kekalahan pasukan Arab dan berdirinya negara Israel menimbulkan keputusasaan bagi Arafat muda. Sehingga ia pun mengajukan visa untuk belajar di Universitas Texas. Di sana semangatnya pulih kembali dan bertekad untuk meraih mimpinya akan sebuah negara Palestina yang merdeka. Ia pun kembali ke Universitas Faud dan mendalami teknik sipil. Namun waktunya banyak dihabiskan untuk menjadi pemimpin bagi para mahasiswa Palestina.Arafat berhasil menyelesaikan studinya pada tahun 1956. Ia sempat bekerja di Mesir, sebelum kemudian menetap di Kuwait. Waktu luangnya selalu digunakan untuk kegiatan politik. Pada tahun 1958, Arafat dan teman-temannya mendirikan Al-Fatah, jaringan bawah tanah yang pada tahun 1959 mulai menerbitkan majalah yang mengimbau perjuangan senjata terhadap Israel. Pada akhir tahun 1964, Arafat meninggalkan Kuwait untuk menjadi revolusioner penuh, mengatur serbuan-serbuan Fatah ke Israel dari Yordania.Pada tahun 1964 itu juga berdiri Organisasi Pembebasan Palestina atau Palestine Liberation Organisation (PLO), di bawah sponsor Liga Arab. Di bawah PLO inilah, sejumlah kelompok bergabung untuk berjuang membebaskan tanah Palestina dari kekuasaan Yahudi. Negara-negara Arab lebih memilih kebijakan konsiliasi daripada mengikuti kebijakan garis keras Fatah. Namun setelah kekalahan dengan Israel dalam Perang Enam Hari 1967, Fatah muncul dari gerakan rahasianya menjadi kelompok yang paling kuat dan terorganisir. Fatah pun mengambil alih organisasi PLO pada tahun 1969 ketika Arafat menjadi ketua komite eksekutif PLO. Sejak itu, PLO bukan lagi menjadi organisasi boneka negara-negara Arab, namun sebagai organisasi nasionalis independen, yang berbasis di Yordania.Selama hidupnya, Arafat terus berpindah-pindah dari satu negara ke negara lainnya untuk mengkampanyekan perjuangan Palestina. Ia berusaha untuk terus merahasiakan gerakan-gerakannya. Begitu pula menyangkut soal kehidupan pribadinya. Bahkan ketika ia menikahi Suha Tawil, warga Palestina yang usianya separuh umur Arafat, hal itu tetap dirahasiakan selama sekitar 15 bulan. Pasangan tersebut memiliki seorang anak perempuan, Zahwa, yang dinamai sesuai nama ibu Arafat.Kini, pemimpin veteran itu telah berpulang. Arafat pergi meninggalkan cita-citanya akan sebuah negara Palestina yang merdeka -- sebuah misi yang masih harus terus diperjuangkan.Selamat jalan, Mr Arafat!
(ita/)











































