Material vulkanis tersebut dapat meluncur turun jika sering terjadi hujan di puncak Merapi. Terutama hujan dengan intensitas cukup tinggi.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Subandrio mengatakan, endapan material memang saat ini telah mengalami perubahan karakteristik. Komponen abunya sudah banyak berkurang, sehingga material tersebut tidak mudah terpicu oleh hujan untuk menjadi lahar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi tersebut sudah jauh berbeda dibanding awal-awal pasca eruspi Merapi, hanya dengan intensitas hujan 40 mm sudah memicu terjadinya banjir lahar dingin.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD DIY, Gatot Saptadi mengatakan, potensi banjir lahar dingin masih perlu diwaspadai pada musim hujan ini. Selain itu, dengan kondisi cuaca ekstrim ini juga perlu diwaspadai potensi bencana seperti angin kencang, puting beliung, banjir dan longsor. Perlu kesiapan seperti peralatan dan koordinasi dengan instansi-instansi lain.
"Gubernur DIY telah mengirim surat kepada Bupati/Walikota se-DIY agar meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi perubahan cuaca kali ini," katanya.
(rmd/rmd)











































