Update 'How To Act Indonesian', Sacha Ingin Jadi Bintang Youtube

Update 'How To Act Indonesian', Sacha Ingin Jadi Bintang Youtube

Nograhany Widhi Koesumawardani - detikNews
Senin, 28 Okt 2013 12:00 WIB
Update How To Act Indonesian, Sacha Ingin Jadi Bintang Youtube
(Foto: Nograhany WK/detikcom)
Jakarta -

'Pengangguran/Youtuber'. Itu kata-kata yang tertulis dalam kartu nama milik Sacha Stevenson (31), bule Kanada yang membuat serial video pendek 'How To Act Indonesian'. Pengangguran? Youtuber? Serius?!

"Ya, saya pernah kerja jadi guru, terus kerja kantoran, pernah kerja di Singapura juga. Tapi nggak betah. Saya nggak betah kalau kerja terikat seperti itu," kata Sacha (baca: Sasa) saat berbincang dengan detikcom di salah satu kafe di Mal Pejaten Village, Jakarta Selatan, pada Jumat (25/10/2013).

Sacha mengaku juga pernah ditawari bermain di sinetron, kemudian menjadi presenter di suatu acara televisi. Alih-alih menerima, Sacha malah menolak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dunia entertain di sini kan kejam banget. Dibilangnya dikontrak misalnya sampai 600 episode, tahu-tahu pada episode kelima mereka nggak suka kita dan tahu-tahu disudahi, kita nggak bisa ngapa-ngapain. Pernah juga ditawari jadi presenter sih, tapi nggak dulu deh," jelas Sacha yang Jumat siang itu diantar laki-laki Indonesia yang diperkenalkan sebagai pacarnya.

Oh ya, Sacha juga mengungkapkan cerita sinetron di Indonesia yang tipikal, bak opera sabun. Sentilannya ini juga disampaikan dalam salah satu serial 'How To Act Indonesian', yang menceritakan sinetron opera sabun banyak berkeliaran di layar TV, dengan pemeran antagonis yang tipikal, mata melirik-lirik ke kanan-kiri atas-bawah berbicara dalam hati merencanakan kejahatan saat tokoh protagonis tak menyadarinya.



(Foto: Youtube Sacha)

Lantas kalau mengaku pengangguran, dari mana Sacha bisa bertahan hidup? "Ya saya kadang mengerjakan video untuk orang lain. Intinya saya kerja freelance. Saya juga pernah sampai menjual mobil karena tak punya uang. Kadang juga minta duit ke ibu saya," jawab Sacha blak-blakan.

Membuat video itu memang adalah hobi Sacha sejak masih sekolah. Sejak beberapa bulan ini, dia membuat video pendek serial 'How To Act Indonesian' juga 'Tips Anti Ribet' yang komikal tentang kehidupan orang-orang Indonesia sehari-hari dari sudut pandang orang asing yang lama hidup di Indonesia.

"Kalau kamu ingin membuat sesuatu, buatlah sesuatu tentang hal yang kamu tahu," kata Sacha tentang alasannya membuat serial video 'How To Act Indonesian' ini.

Sacha membuat video 'How To Act Indonesian' dan 'Tips Anti Ribet' ini justru karena kepeduliannya pada Indonesia, negara favoritnya ini. 12 Tahun tinggal di Indonesia membuat Sacha mengamati banyak hal tentang kehidupan orang Indonesia. Bahkan, masih banyak ide-ide di kepalanya yang belum diwujudkan.

"Ide sama naskah-naskah itu masih ada segini (sambil memperagakan tumpukan kertas yang tinggi). Saya janji untuk update videonya seminggu sekali, kalau nggak bisa paling nggak dua minggu sekali," tutur Sacha yang siang itu tampil kasual, memakai celana kargo dan kaos oblong putih dengan sablon warna emas.

Dalam memproduksi 'How To Act Indonesian' itu, Sacha mengaku melakukannya sendirian. Mulai dari mendandani diri sendiri, syuting sampai editing. Peralatan 'perang' utamanya seperti kamera Canon 7D, mikrofon Sennheiser hingga layar hijau (green screen).

"Saya sendirian membuat video ini. Ya saya akal-akalin gimana gitu caranya. Sendiri lebih praktis, kalau dibantuin teman itu suka ribet mencocokkan jadwalnya," tutur Sacha.

Lantas benarkah kamu bercita-cita ingin menjadi bintang Youtube? "Ya. Saat ini media Youtube sangat diperhatikan orang, sebagai salah satu cara menyampaikan pesan. Nggak tahu nanti, apakah nanti tetap memakai Youtube atau yang lain," jawab Sacha yang tak memiliki target-target dalam hidup untuk saat ini. "Saya sih go with the flow aja untuk saat ini," imbuhnya.

Ternyata, Sacha ingin menjadi bintang Youtube terinspirasi dari Jenna Marbles, bintang Youtube perempuan dari Amerika Serikat kelahiran 1986. Video Jenna Marbles juga yang dipakai Sacha untuk meyakinkan ibunya, Lois Stevenson yang seorang profesor di bidang wirausaha perempuan di Kanada.

"Saya ajak ibu saya nonton video-videonya Jenna Marbles. Dia menjadi bintang Youtube, kemudian berbicara di berbagai forum di sana-sini memberikan kuliah. Saya ingin seperti itu," tutur Sacha, putri semata wayang yang sudah yatim ini.

Meski sulit meyakinkan ibundanya, pada akhirnya sang ibunda memberikan dukungan atas apa yang dilakukannya itu. "Ibu saya seorang feminis yang gila bekerja. Setahun mungkin bisa 3 negara disinggahinya. Dia menilai saya di video itu lucu, dan bahkan suka memposting video saya di laman Facebook-nya," aku dia.

Teman-teman bulenya juga menganggap videonya lucu. Video dengan gaya kocak ternyata menjadi formula agar pesan bisa tersampaikan.

"Dulu aku pernah bikin video yang serius-serius. Eh malah nggak ada yang nonton. Jadi aku hapus-hapusin satu-satu," ungkap Sacha yang pernah belajar Islamic Studies di American Open University dan Lembaga Pendidikan Indonesia-Arab Saudi (LIPIA) di Pejaten, Jaksel, ini.

Komentar dari orang Indonesia sendiri banyak yang mendukung, terkadang ada yang kontra dan mengkritik. "Ya bebas-bebas saja, tak semua orang harus suka dengan yang aku lakukan. Yang penting aku bisa menyampaikan pendapatku melalui video itu, aku lega rasanya," tuturnya.

Kendati tengil dalam 'How To Act Indonesian' ternyata Sacha bisa mewek juga. Apa sih yang membuat Sacha berurai air mata? Tunggu artikel selanjutnya.



(nwk/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads