Ratusan pemuda dari beragam komunitas di kampung-kampung Kota Yogya menggelar aksi yang disebut sebagai happeningart "Bocah Jogja Nagih Janji". Aksi itu digelar di titik nol kilometer Yogyakarta, Minggu (27/10/2013).
Dalam aksinya, para pemuda itu memainkan berbagai permainan tradisional di tengah jalan saat lampu merah. Dengan bertelanjang dada dan dicat warna-warni, mereka bermain otok-otok, ular tangga, ular naga, egrang, lompat tali, dan permain tradisional lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Koordinator aksi, Anisa Rahmawati mengatakan, aksi protes ini dilakukan karena ruang yang mendukung kegiatan belajar dan bermain anak-anak Yogya semakin hilang. Kehidupan kota Yogya telah berubah menjadi komersil dan individual.
"Kampung-kampung kota yang menjadi unsur utama pembentuk kota Yogya tergusur oleh perubahan fungsi lahan, makin banyak hotel, mall, dan lainya," kata Anisa Rahmawati.
Aksi para pemuda Yogya itu juga merupakan bagian dari Festival Seni Mencari Haryadi(Walikota Yogya). Mereka menagih janji, soal ruang-ruang terbuka hijau untuk anak-anak Yogya yang dijanjikan Haryadi.
Aksi ini ditutup dengan deklarasi yang berisikan anak Yogya akan tetap bermain mengembangkan kreativitasnya, meski tak ada lagi ruang yang tersedia.
(iqb/bal)











































