Benar kata-kata bijak nenek moyang, masakan adalah api cinta. Seorang pria bisa menjadi tergila-gila, majnun pada seorang perempuan, karena kepiawaiannya memasak. Suatu hikmah yang nyaris universal, seperti budaya Belanda juga mengenal ungkapan de liefde van de man gaat door de maag.
Cinta melalui lidah turun ke hati. Kekuatan pengaruh lezatnya masakan inilah yang dikelola oleh KBRI Den Haag sebagai salah satu diplomasi kuliner dengan menyelenggarakan "Kompetisi Kuliner Indonesia 2013" di Keizer Culinair Studio, Den Haag, Kamis (24/10/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip sebuah ungkapan, Dubes memaparkan fakta bahwa posisi makanan Indonesia sudah begitu dikenal dan digemari masyarakat Belanda dari generasi ke generasi dan betapa besar peran kuliner Indonesia dalam mempererat hubungan dan kerjasama kedua negara.
"Meskipun demikian, perlu terus dilakukan pemahaman mengenai rasa otentik makanan Indonesia serta pengolahan makanannya yang sehat," imbuh Dubes.
Dubes berharap melalui kegiatan kompetisi kuliner bisa ada peningkatan hubungan bisnis dan perdagangan kedua negara, khususnya ekspor bumbu dan bahan makanan Indonesia ke Negeri Belanda.
Untuk kompetisi yang mengambil tema Gezond & Authentieke Indonesische Culinaire (Kuliner Sehat dan Otentik Indonesia, red) ini KBRI Den Haag merangkul Asosiasi Chef Indonesia di Belanda, yakni Indokok dan Indonediair.
Acara yang dikemas dalam dua ronde kompetisi tersebut menampilkan delapan tim peserta yang mengolah kreasi makanan otentik Indonesia, baik dari sisi cita rasa maupun bumbu yang digunakan.
Salah satu keunikan kompetisi adalah setiap tim wajib menggunakan minimal lima macam bumbu asli Indonesia sebagai bumbu utama.
Di samping itu, pada saat penyelenggaraan lomba juga diselenggarakan beberapa kegiatan lainnya, yaitu demo masak makanan otentik Indonesia oleh chef Agus Hermawan (Restaurant Blauw) dan workshop fruit carving (seni ukir buah) oleh chef Didi Han dengan menggunakan buah-buahan tropis sebagai sarana ukiran.
Tim juri yang terdiri dari para chef terkenal Belanda akhirnya memutuskan chef Ms. Istiana yang menyajikan masakan plecing kangkung ala Surabaya sebagai pemenang pertama, dan chef Maura Latumerisa yang menyajikan masakan pepeda kuah ikan sebagai pemenang kedua.
Keduanya berhak mendapatkan piala dan sertifikat dari KBRI Den Haag dan hadiah uang.
Kompetisi kuliner otentik Indonesia ini mendapat perhatian dari publik dan media Belanda, yang tertarik dengan aneka kreasi pengolahan makanan dan masakan Indonesia.
(es/es)