Pae-Pae, panggilan akrabnya, menempuh pendidikan master bidang ilmu filsafat selama kurang lebih 2 tahun. Dia yang berasal dari negara kecil di benua Afrika bagian selatan itu berencana melamar menjadi dosen filsafat di negara asal.
"Saya senang, akhirnya bisa sukses menyelesaikan studi. Perasaan saya ini hampir sama saat pertama kali datang ke Indonesia dan kuliah di sini," kata Pae-Pae kepada wartawan seusai acara wisuda di Bulaksumur, Yogyakarta, Kamis (24/10/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada awalnya dia kesulitan memahami materi perkuliahan dan diskusi. Namun para dosen dan mahasiswa selalu memberi semangat. Kata 'sabar', salah satu kata dalam bahasa Indonesia yang selalu diingat Pae-pae. Kata-kata itu juga sering disampaikan teman-teman kuliahnya.
"Saya harus beradaptasi saat kuliah, tapi banyak teman-teman dan dosen yang membantu dalam belajar," kata bungsu dari tiga bersaudara itu.
"Orang Indonesia itu punya sikap dan pribadi yang berbeda dari orang-orang yang selama ini saya temukan di Lesotho. Saya bersyukur sudah bisa datang ke Indonesia," katanya.
Menurut dia, ada tiga mahasiswa yang dikirim tugas belajar di UGM. Dua mahasiswa lainya tengah menempuh studi di pendidikan master di Psikologi dan Fisipol.
Dia bercerita, ada banyak mahasiswa Leshoto yang dikirim tugas belajar di berbagai negara dengan dana beasiswa yang diberikan oleh pemerintah setempat. Dia mengetahui setelah lihat di website tentang Indonesia yang menawarkan beasiswa khusus untuk negara-negara berkembang.
Karena belum tahu banyak tentang wilayah Indonesia yang ternyata luas itu, awalnya dia berniat memilih kuliah di perguruan tinggi yang dekat dengan ibukota, Jakarta. Namun justru mendapat tempat kuliah di Yogyakarta.
"Saya dapat kuliah di Yogya dengan biaya hidup lebih murah. Kota ini sangat ramah bagi mahasiswa. Tidak pernah saya dirampok, dan bebas jalan-jalan ke mana-mana," pungkas lulusan sarjana filsafat St Agustinus Seminary Roma, Lesotho.
(bgk/trw)











































