Tahap pembangunan MRT sudah resmi dimulai di Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Namun hingga kini PT Jakarta MRT selaku penanggungjawab tersebut belum juga mengumumkan pengalihan jalur lalu lintas di sekitar lokasi proyek untuk mengantisipasi kemacetan yang pasti muncul sebagai dampaknya.
Hal ini diungkap Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) di Gedung Prasada Sasana Karya, Jl Suryopranoto No 8, Jakarta Pusat, Rabu (23/10/2013). Sekretaris DTKJ Aully Grashinta pun membandingkan antara MRT Singapura ketika mengerjakan proyeknya dengan PT Jakarta MRT.
Melalui situs jakartamrt.com, Aully mencoba memperlihatkan titik-titik pembangunan MRT di Jakarta. Namun bukannya sebuah peta yang muncul, melainkan situs pencarian terkait.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di situs tersebut juga tidak menyebutkan proses pengerjaan per tahap yang memakan waktu sekian lama. Belum lagi pengalihan arus lalu lintas, jalur alternatif, sehingga Aully menilai masyarakat tidak diberi kesempatan untuk antisipasi kepadatan kendaraan saat melintasi titik proyek yang belum mereka ketahui.
"Sampai hari ini, belum ada gambaran," ujar Aully.
Kemudian Aully menunjukkan sejumlah foto pengerjaan MRT di Singapura. Salah satu foto adalah penutupan proyek menggunakan seng yang tercantum layanan hotline untuk mendapatkan informasi atau menyampaikan keluhan.
"Tapi di Dukuh Atas tidak ada hotline yang bisa dihubungi. Ini seharusnya jadi perhatian PT Jakarta MRT," ujar Aully.
Salah satu yang akan disampaikan ke Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo seperti pekerjaan yang dilakukan malam hari, pembatasan waktu kerja, pengalihan arus lalu lintas, informasi kepada masyarakat, 'park and ride', penyediaan bus shuttle, dan peningkatan kapasitas busway. Iskandar meminta persyaratan minimal yang harus diperhatikan seperti jumlah lajur, kondisi jalan, fasilitas drainase, dan pedestrian.
"Permasalahan paling besar akan ditemukan pada saat membangun stasiun di bawah tanah di Blok M-Kota. Karena konstruksi stasiun MRT dilakukan dengan membuka tanah, ini yang biasanya dampak paling besar," ujar Iskandar.
Kemudian Iskandar menampilkan skema pemasangan struktur stasiun di bawah tanah dengan cara membuka tanah. Di atas stasiun terdapat Jalan MH Thamrin-Sudirman, ketika membuka tanah maka jalan tersebut turut dikorbankan.
"Jadi sangat penting memperhatikan jalur alternatif yang paralel MRT. Mau tidak mau kapasitas ditingkatkan, mengurangi semua hambatan, memperlebar jalur alternatif dan larangan berhenti atau parkir di jalur alternatif," ujar Iskandar memberi saran.
"Ini contoh stasiun Dukuh Atas, itu di bawah lalu lintas. Artinya, selama ini dibangun dan dibuka, kalau dibuka prosesnya satu stasiun itu panjangnya 200 meter. Berarti 200 meter akan diangkat tanahnya dan prosesnya tidak gampang," kata Iskandar menambahkan.
(vid/lh)











































