Iyus Djuher Meninggal Dunia Sebelum Mendengar Pembacaan Vonis

- detikNews
Rabu, 23 Okt 2013 15:54 WIB
Bandung - Terdakwa kasus suap makam Iyus Djuher meninggal dunia. Mendengar kabar ini, majelis hakim yang menangani perkara mantan ketua DPRD Kabupaten Bogor itu akan segera membuat penetapan pengguguran perkara.

Hal itu disampaikan ketua majelis hakim yang menangani perkara tersebut, Sinung Hermawan, saat ditemui di ruang kerjanya di Pengadilan Negeri Bandung, Jalan LRE Martadinata, Rabu (23/10/2013).

"Saya sudah dengar kabar kalau terdakwa meninggal dunia. Sesuai dengan aturannya, kami akan buat penetapan untuk gugurkan perkara, tapi tunggu keterangan resmi berupa surat kematian terdakwa dulu," ujar Sinung.

Ia mengatakan, seharusnya perkara ini akan dibacakan vonisnya pada 6 November mendatang. Sebelumnya, Djuher sempat membacakan nota pembelaan (pledoi) pada Senin (21/10/2013). Namun terdakwa tak hadir sidang karena masih tergolek lemah di RS Dharmais Jakarta.

"Kita sudah upayakan untuk mempercepat sidang ini sampai-sampai pledoi tidak dihadiri terdakwa. Tapi ternyata takdir berkehendak lain," katanya.

Dengan digugurkannya perkara ini, maka sidang pun dihentikan. Saat disinggung apakah hukuman berupa denda bisa dikenakan pada ahli warisnya, Sinung mengatakan hal itu tak bisa dilakukan.

"Kalau perdata, itu bisa oleh ahli waris. Tapi kalau pidana seperti ini kan pertanggungjawaban perorangan. Apalagi ini kan perkara belum diputuskan apa terdakwa bersalah atau tidak. Tidak ada kerugian negara juga, karena ini perkara suap," tutur Sinung.

Selain Djuher yang dituntut hukuman 4,5 tahun oleh JPU KPK, ada 4 orang lainnya yang terlilit perkara ini. Tuntutan terhadap Djuher dalam kasus ini tercatat yang tertinggi dibandingkan 4 terdakwa lainnya.

Sebelumnya, dua terdakwa yaitu Direktur Utama PT Garindo Perkasa, Sentot Susilo dan Direktur Operasional Nana Supriana yang dijatuhi hukuman 3 tahun penjara dari tuntutan JPU yaitu 4 tahun penjara.

Sementara Usep Jumeno dan Listo Welly Sabu yang merupakan penghubung pengusaha dan pengurus izin dituntut hukuman berbeda oleh JPU. Usep dituntut hukuman penjara 3 tahun sedangkan Welly dituntut hukuman lebih ringan, yaitu 2 tahun penjara.

Iyus disebutkan JPU menerima hadiah uang Rp 115 juta dan Rp 600 juta dari PT Garindo Perkasa itu diberikan agar supaya memberikan rekomendasi untuk penerbitan izin lokasi tempat pemakaman bukan umum (TPBU) seluas 1 juta meter persegi di Desa Antajaya, Kecamatan Tanjungsari, Bogor.

(tya/mad)