Bahayakan Manusia, Newmont Didesak Pantau Buyat 30 Th

Bahayakan Manusia, Newmont Didesak Pantau Buyat 30 Th

- detikNews
Rabu, 10 Nov 2004 15:10 WIB
Jakarta - Tim Teknis Penanganan (Tim Terpadu) kasus Buyat meminta agar pemerintah dan pihan PT Newmont Minahasa Raya (MRH) melakukan pemantauan di Teluk Buyat selama 30 tahun. Menurut penelitian tersebut, Teluk Buyat memiliki risiko tinggi terhadap kesehatan manusia dengan adanya ikan yang mengadung arsen dan merkuri.Demikian disampaikan oleh peneliti Walhi Raja Siregar dan Koordinator Jatam Siti Maimunah dalam jumpa pers tentang hasil penelitian Tim Teknis Tim Terpadu kasus Buyat, di Gedung YTKI, Jl. Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (10/11/2004).Menurut Raja, Tim Terpadu yang dibentuk ini paling lengkap, melibatkan sejumlah pihak, seperti Kementerian KLH, Departemen ESDM, Walhi, Jatam, Depkes, IPB, Unpad, Unsrat, BPPT dan Mabes Polri. "Sebagai tim resmi yang dibentuk oleh pemerintah, tim ini mempunyai legitimiasi kuat dan kredibel yang bisa dipertanggungjawabkan, sehingga semua pihak harus menerimanya termasuk oleh Newmont," jelas Raja.Raja menjelaskan hasil penelitian Tim Teknis (Tim Terpadu) tersebut. Menurutnya, aspek kimia yang diteliti di teluk tersebut menunjukkan, kandungan arsen dan merkuri pada air laut di Teluk Buyat dan Teluk Rawatotok masih di bawah baku mutu.Namun, kandungan arsen pada sedimen di sekitar penumpukan tailing (limbah batuan tambang berbentuk lumpur dari berbagai logam berbahaya) Newmont di Teluk Buyat sangat tinggi. Bahkan lebih tinggi dari kisaran tertinggi untuk sedimen tercemar menurut Asean Marine Water Quality Guideline (2004).Begitu juga dengan kandungan merkuri pada sedimen di Teluk Buyat dan Rawatotok juga termasuk dalam sedimen yang tercemar. Pada kedalaman 110 meter atau lebih dalam dari ujung pipa tailing, masih terdapat dissolve oxygen yang mengindikasikan pada kedalaman tersebut masih terdapat kehidupan organisme laut.Tak Ada ThermoklinHasil penelitian dari aspek fisika menunjukkan data pola arus pergerakan air laut yang dinamis yang bisa menyebarkanluaskan air laut yang mengadung logam berat. Raja dkk juga tidak menemukan thermoklin di kedalaman kurang dari 82 meter di lokasi tailing. Padahal Newmont dalam AMDAL (1994) menyatakan telah menanam thermoklin itu dan lapisan ini akan berfungsi sebagai pelindung tailing agar tidak menyebar ke permukaan.Dari kajian biologi, jelas Raja, kesehatan suatu perairan dapat dilihat melalui indeks diversitas (keragaman) organisme laut, seperti plankton, benthos (hewan dasar laut) dan ikan. Keragaman untuk plankton di Teluk Buyat rendah karena adanya gangguan. Sedangkan di Rawatotok justru menunjukan kondisi yang lebih baik.Untuk keragaman benthos juga menunjukan kondisi yang sangat rendah dan dikategorikan mengalami pencemaran berat. Justru di Rawatotok masih dikategorikan tercemar ringan hingga sedang. Kandungan logam merkuri pada benthos lebih tinggi dibandingkan kandungan merkuri pada sedimennya. Ini menandakan terjadinya proses bioakumulasi (penumpukan) logam berat oleh organisme laut.Berisiko pada ManusiaKajian perhitungan risiko pada manusia yang mengkonsumi ikan di Teluk Buyat, menurut Raja, tim menyimpulkan bahwa mengkonsumsi ikan yang mengandung merkuri sangat berisiko bagi anak-anak dan orang dewasa. Asupan merkuri yang bersumber dari konsumsi ikan sudah mendekati bahkan melampaui batas Tolerably Daily Intake (TDI) untuk merkuri dan Acceptable Daily Intake (ADI) untuk Arsen, 82,82 % untuk dewasa dan 80,98 % untuk anak-anak.Bagi yang menkonsumsi ikan mengadung arsen menurut perhitungan TDI, setelah periode lima tahun akan terlihat gejalanya dan dinilai dari tingkat kesehatan termasuk berisiko tinggi. Oleh karena itu perlu adanya penanganan clean up terhadap kontaminan di sumber pencemaran.Menurut Raja, pihak Depkes telah diberi rekomendasi untuk melakukan kajian lanjut pada kuku dan urine untuk melihat paparan logam arsen warga. Rekomendasi ini berdasarkan temuan pencemaran logam merkuri dan gejala penyakit (symptom) yang mirip dengan kontaminasi arsen.Ada temuan yang mengagetkan, jelas Raja, dari hasil penelitian menunjukkan air suplai di Dusun Buyat Pante sejak tahun 2004 dinyatakn mengandung mangan melampaui baku mutu Peraturan Menteri Kesehatan. Ada empat dari enam sumur di desa Buyat yang memiliki kadar arsen melebihi baku mutu untuk air minum yang ditetapkan Peraturan Menkes, dan duduga ada pencemaran di sumur-sumur di desa tersebut.Koordinator Jatam, Siti Maimunah mengatakan, temuan tim terpadu ini adalah untuk mengungkapkan kebenaran. Dia berharap dari hasil penelitian ini, pemerintah segera mengumumkan hasilnya kepada publik dan menindaklanjuti untuk menyelesaikan kasus Buyat. (nrl/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini