Seperti yang terjadi di lampu merah Penas menuju Kalimalang, Selasa (22/10/2012). Seorang pengamen topeng monyet membereskan perlengkapannya dan langsung berlari menyeberang jalan sehingga tidak tertangkap petugas.
Namun tak jauh dari situ ada seorang pengamen topeng monyet lain yang juga berusaha melarikan diri ke arah belakang Perumnas, Cipinang Cempedak. Beruntung petugas berhasil mengejar dan menangkap pria bernama Apung (50) beserta monyet bernama Acil dan perlengkapannya tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Enggak tau saya mah kalau dilarang. Saya orang bodoh, mau kerja apalagi?" kata Apung di lokasi, Selasa (22/10/2013).
Apung yang tinggal di Jonggol, Bogor, Jawa Barat ini mengaku telah menjalani profesi tersebut selama dua tahun. Setiap harinya ia bolak-balik dari Jonggol ke Jakarta dengan mengendarai motor.
"Dulu saya usaha bengkel. Kalau ada modalnya saya mau buka tambal ban sendiri," katanya.
Apung mengaku rata-rata penghasilannya setiap hari sebesar Rp 50 ribu. Monyet tersebut ia beli sendiri dengan harga Rp 600 ribu.
"Monyet ini makannya seperti apa yang saya makan. Kalau saya makan nasi, dia makan nasi. Kalau saya makan mi, dia makan mi," ujar Apung.
Dengan profesi topeng monyet ini, Apung mengaku dapat menafkahi 4 orang anaknya yang kini masih sekolah dan seorang istri. Dari lokasi tersebut, petugas kembali menyisir jalan. Saat tiba di lampu merah PGC yang keluar tol Cawang tampak seorang pengamen topeng monyet. Namun begitu melihat petugas, ia langsung lari ke arah pemukiman yang berada di belakang UKI.
Sementara itu, Kasie Pengawasan dan Pengendalian Sudin Peternakan dan Perikanan Jakarta Timur, Sabdo Kurnianto mengatakan, pihaknya akan terus menggelar razia ini hingga Jakarta bersih topeng monyet.
"Monyet akan dibawa ke Ragunan, kalau Pak Apung sendiri akan dibina di panti sosial Cipayung," kata Sabdo.
(kff/lh)











































