Sidang Pencurian Pulsa Kembali Digelar, Hadirkan 4 Saksi Ahli

- detikNews
Selasa, 22 Okt 2013 15:39 WIB
Jakarta - Sidang kasus pencurian pulsa dengan terdakwa Direktur Utama PT Colibri Network, Nirmal Hiroo Bharwani, alias HB Naveen kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Agenda sidang kali ini mendengarkan keterangan ahli.

"Agenda sidang mendengarkan keterangan saksi yaitu Muhammad Nuh Al-Azhar, Ferry Andriono, dan Ir Karsono," ujar Ketua Majelis Hakim, Gusrizal di ruang sidang PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Selasa (22/10/2013).

Saksi pertama yaitu Muhammad Nuh Al-Azhar adalah ahli digital forensik Mabes Polri. Dirinya menganalisis 4 log file yang diberikan penyidik Bareskrim untuk menganalisa besaran kerugian yang diderita konsumen layanan reg-unreg.

"Keempat file itu berasal dari server PT Colibri. Kita diminta untuk melakukan analisa digital forensik secara statistik untuk melihat kerugian. Dan kesimpulannya bahwasanya estimasi kerugian sekitar 19 miliar," kata Nuh di depan majelis hakim.

Namun, kuasa hukum terdakwa yaitu John K Azis mempertanyakan darimana Nuh mendapatkan angka 19 miliar dan apakah bisa kerugian didasarkan pada asumsi.

"Dari sekitar 643 ribu lebih nomor, kita menggunakan salah satu metode statistik dan mengambil 400 sampel untuk menghitung kerugian. Dari bulan Februari sampai September, rata-rata Feri Kuntoro menerima 16 sms per bulan," papar Nuh.

Nuh juga mengatakan, ada dua hal yang menyebabkan pelanggan tidak bisa melakukan unregisterasi langganan. Yang pertama pelanggan tidak mengetik sesuai dengan kode yang diberikan. Yang kedua jaringan provider pada saat itu sedang drop.

"Namun kemungkinan yang sangat besar adalah kode yang salah," kata Nuh.

Kemudian majelis hakim menanyakan apakah mungkin seorang pelanggan yang tidak melakukan registerasi pada suatu layanan, tapi pulsanya terpotong karena layanan itu.

"Bisa, semua sistem punya celah, sehingga ketika sistem itu dinakali sama yang tahu sistem itu bisa," jawab Nuh.

Ketiga saksi lainnya adalah Ferry Andriono dari Perlindungan Konsumen, Karsono dari Badan Regulasi Telekomunikasi, dan Yusuf Sofhie yang menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional.

Kasus ini bermula saat Feri Kuntoro melaporkan kehilangan pulsa setelah registrasi undian berhadiah lewat layanan SMS konten dengan short code 9133, yang belakangan diketahui, disediakan oleh content provider milik PT Colibri Networks. PT Colibri dilaporkan pada 5 Oktober 2011 ke Polda Metro Jaya dengan nomor laporan LP/3409/X/2011/PMJ/ Ditreskrimsus.

(dha/gah)