"Bahkan bisa terjadi bias yang memang direkayasa oleh pelaksana survei," kata Direktur Eksekutif Seven Strategic Studies (7SS) Mulyana W Kusumah mengomentari hasil survei LSI Denny JA yang menempatkan Golkar di urutan teratas.
Hal ini disampaikan Mulyana dalam siaran pers, Selasa (22/10/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berbagai potensi ketidakakuratan dan bias dalam survei, seharusnya dikoreksi secara terbuka dengan kaidah-kaidah akademik, atau dikritisi dengan survei tandingan," katanya.
Semaraknya publikasi hasil polling berbagai lembaga survei, pada satu sisi bernilai positif bagi pembentukan sikap kritis publik. Pada sisi lain juga menggambarkan kontestasi yang kian hangat menjelang Pileg dan Pilpres 2014.
"Dengan demikian, hasil polling elektabilitas tidak perlu ditanggapi berlebihan, karena memberikan kontribusi bagi tumbuhnya rasionalitas politik," tandasnya.
Partai Golkar mengakui Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dipimpin Denny JA merupakan konsultan politik Aburizal Bakrie.
"Setahu saya salah satu surveyor yang dipake Golkar. Kita kan bukan cuma mereka. Itu hanya salah satu saja," kata Sekretaris Fraksi Golkar Ade Komaruddin di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (22/10/2013).
Terkait rilis survei LSI, Ade menilai penyertaan capres dari 3 parpol teratas, tidak salah. "Survei juga punya hak untuk menentukan subjektivitasnya dong," imbuh Ade.
(van/nrl)











































