"Anak saya diturunkan saat menjelang magrib, dekat pabrik gula dan tempatnya gelap. Anak saya nangis-nangis, memancing warga dan datanglah polisi. Lalu dibawa ke kantor polisi," kata Lukman, ayah Afnan kepada detikcom, Senin (21/10/2013).
Petugas polisi di Cirebon kemudian menanyakan nama dan tempat tinggal Afnan. Beruntung, Afnan hafal nomor telepon genggam ayah dan ibunya, sehingga polisi tidak perlu lama mengontak keluarganya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada keluarganya, Afnan menceritakan bagaimana akhirnya ia bisa berada di Cirebon. Minggu (20/10) pagi, Afnan tinggal di rumahnya di Pondok Gede, Bekasi, bersama Wati karena Afnan menolak ajakan ibunya untuk pergi ke masjid.
Sang ibu kemudian meninggalkan Afnan bersama pembantu yang baru direkrutnya pada Sabtu (19/10) malam. Saat ibunya pergi itu, Wati yang sedang hamil tiga bulan itu lantas mengajak Afnan untuk pergi, dengan alasan mau menemui ibunda Afnan.
"Anak saya diajak naik angkot, bilangnya mau ketemu istri saya," ujar Lukman.
Bukannya menemui ibunda Afnan, Wati justru membawa Afnan lanjut ke Terminal Kampung Rambutan. Afnan dibawa naik bus dengan tujuan ke Cirebon.
"Kemudian di Cirebon anak saya diturunkan sendirian," ungkapnya.
Afnan pun menangis kencang karena ia sudah tersesat dan pembantunya sudah tidak ada. Tangisan Afnan ini kemudian memancing kedatangan warga hingga akhirnya Afnan dibawa ke kantor polisi dan bertemu kembali dengan orangtuanya.
Sementara sampai saat ini, Wati sang penculik belum tertangkap.
(mei/lh)










































