"Iya, saya dikasih Rp 300 ribu sama Brengos dari uang penjualan motor korban," kata IP kepada wartawan di LBH Jakarta, Jl Diponegoro 74, Jakarta Pusat, Sabtu (19/10/2013).
Menurut pengakuan IP, ia adalah satu dari tiga pelaku sebenarnya dalam kasus pembunuhan pengamen bernama Dicky di Cipulir, Jaksel. Tugas IP saat itu menjaga keadaan dan tidak turut mengeksekusi Dicky.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IP menyatakan diberi uang oleh Brengos beberapa hari setelah malam eksekusi itu. Usai pertemuan pemberian uang itu, IP mengaku tak pernah berkomunikasi atau bertemu dengan dua pelaku lainnya.
"Rumahnya (kedua pelaku) deket rumah tante saya di Petukangan. Tapi sekarang nggak tahu mereka dimana," jelas IP.
Berdasarkan pengakuannya, IP baru pertama kali bertemu Dicky saat malam eksekusi itu. Ia diceritakan Cubai bahwa Dicky orangnya yang songong dan Cubai ingin memberi pelajaran kepada korban.
"Cubai kayaknya punya dendam pribadi sama korban. Bilangnya pengen dikerjain saja, tapi ternyata sampai dibunuh. Takut juga saya pas tahu dia dibunuh," cerita IP.
IP menegaskan jika enam pelaku yang saat ini telah menjalani proses persidangan di PN Jaksel, empat di antaranya telah menerima vonis dari majelis hakim, adalah tak ada hubungannya sama sekali dengan kejadian pembunuhan ini.
"Nggak, mereka nggak tahu apa-apa," terang IP.
(rna/asp)











































