Pak Menteri Pun Luluh kepada Bunda

Menelusuri Bunda Putri

Pak Menteri Pun Luluh kepada Bunda

- detikNews
Jumat, 18 Okt 2013 15:10 WIB
Pak Menteri Pun Luluh kepada Bunda
Jakarta - Tidak banyak orang yang bersantap di restoran Grand Cafe. Selepas jam makan siang itu, hanya ada dua perempuan paruh baya yang sibuk membolak-balik kertas dokumen sambil menenggak minuman.

Suasana lengang itulah yang agaknya dicari oleh Non Saputri alias Bunda Putri. Di restoran yang berada di lobi Hotel Grand Hyatt Jakarta itulah perempuan yang disebut oleh mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq bertugas mengkondisikan para decision maker ini selalu menggelar pertemuan dengan kolega dan rekan bisnisnya.

Kadang urusan bisnis atau lobi memerlukan pembahasan lebih lanjut. Jika sudah begitu, "Biasanya dia buka kamar penthouse buat meeting," kata bekas menantu Bunda Putri, Bernaldi Kadir Djemat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bunda Putri awalnya dikenal sebagai Direktur Utama PT Dwipa Kreatek Persada. "Kalau enggak salah, bisnisnya impor sapi," kata Sabarudin, anggota staf pengelola gedung Yamati, tempat Dwipa berkantor, di bilangan Cikini, Jakarta.
Perusahaan yang didirikan Bunda Putri pada 2001 ini sempat mengikuti proyek di Kabupaten Lampung Barat. Dwipa jadi salah satu investor dalam proyek yang total nilainya mencapai Rp 2 triliun tersebut.

Saat Dwipa masih berkibar, Bunda Putri sempat menyerukan agar Presiden Megawati Soekarnoputri memberikan subsidi pembelian beras buat petani. Tapi kini jejak Dwipa lenyap.

Saat majalah detik menyambangi gedung Yamati, kantor Dwipa sudah tidak ada. Sabarudin mengatakan, perusahaan itu pindah dari sana pada 2005.

Menteri Pertanian Suswono dan beberapa kenalan menuturkan, Bunda Putri mempunyai bisnis pupuk di Kalimantan. Anak semata wayang Bunda Putri, Peni Fernita Sari, pernah mengatakan dia dan keluarganya mencoba menawarkan mesin pengolah kelapa sawit kepada Bupati Tanjung Jabung Timur, Zumi Zola.

Namun, menurut Bernaldi, tak ada bisnis mantan ibu mertuanya itu yang fantastis. "Yang saya tahu, dia mulai bisa dibilang survive sewaktu di Petronas," ujar pria yang biasa disapa Aldi itu.

Pada Maret 2008, Bunda Putri muncul di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Dia mengantar Presiden Direktur Petronas Tan Sri Dato Mohamad Hasan Marican menemui Menteri Energi Purnomo Yusgiantoro. Foto Bunda Putri saat bertemu Purnomo saat ini telah beredar luas.

Kala itu perusahaan pelat merah Malaysia tersebut tengah gencar melobi pemerintah Indonesia agar dijadikan mitra penggarapan gas bumi di Blok D-Alpha Natuna, Kepulauan Riau. Petronas juga mencari lahan buat pembangunan pabrik pengolahan gas itu.

Bunda Putri ditunjuk menjadi penasihat Petronas untuk kedua proyek itu. Dia membawa Suhaimi, perwakilan Petronas, mendatangi Pelabuhan Merbau dan Pantai Selimpai di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Blok Natuna berada di perbatasan Kepulauan Riau dan Kalimantan Barat.

Rencana pembangunan pabrik di Kecamatan Paloh itu dipaparkan Bunda Putri kepada tuan rumah di kediaman dinas Bupati Sambas Burhanuddin A. Rasyid. Adik Burhanuddin, Fathan A. Rasyid, yang menjabat Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Barat, juga hadir di sana. "Kami mohon dukungan dari Sambas agar keputusan penentuan Petronas jadi partner itu cepat terealisasi," kata perempuan asal Cilimus, Kuningan, Jawa Barat, tersebut.

Setelah itu, Bunda Putri dan Burhanuddin saling mengunjungi. Nenek satu cucu itu, misalnya, datang ke resepsi pernikahan anak Burhanuddin. Sebaliknya, Burhanuddin menyambangi Bunda di Pondok Indah, Jakarta Selatan. "Kami cukup dekat karena dia semacam adik angkat," kata Burhanuddin. "Waktu istri saya masih hidup, dia (Bunda Putri) suka nitip uang."

Pada Desember 2010, gerilya Petronas membuahkan hasil. Perusahaan itu bersama ExxonMobil dan Total menjadi mitra Pertamina dalam menggarap lapangan gas Natuna, meski dua tahun kemudian Petronas angkat kaki dari Natuna.

Sementara itu, rencana membuat kilang LNG di Sambas berantakan. "Akhirnya batal karena mereka tidak bisa masuk ke tingkat nasional," kata Burhanuddin.
Pihak Petronas ogah mengomentari proyek Natuna itu. Soal Bunda Putri pun mereka mengaku tak tahu-menahu. β€œSaya tidak kenal dan tidak pernah dengar nama itu. Sudah, ya, saya sedang rapat,” kata Head of Business Development PT Petronas Niaga Indonesia Wisnu Widijoko.

Bunda Putri memang tak bekerja di kantor Petronas. Semua urusan proyek Blok Natuna digarap di rumah kontrakan Bunda Putri di Jalan Metro Pondok Indah, yang disulap jadi kantor.

Aldi bercerita awalnya mertuanya itu menyewa apartemen di Bona Indah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Setelah proyek Petronas gol, Bunda Putri meminta kepadanya agar dicarikan rumah di pinggir jalan raya dan didapatlah rumah lantai dua di Pondok Indah.

Berada di kawasan yang harga sewa rumah mencapai Rp 50 juta per bulan, kantor itu dipertahankan Bunda Putri meski sudah ditalak oleh Petronas. Aldi bercerita rumah itu penuh dengan foto Bunda tengah berpose dengan pejabat. Foto-foto bersama pejabat itulah yang menjadi modal Bunda Putri meyakinkan dan mendekati sejumlah pejabat. β€œDari anak tangga terbawah sampai atas isinya foto semua," ujarnya.

Yang teristimewa adalah foto Bunda Putri bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani. Dalam foto itu, menurut Aldi, Bunda Putri memepet Ibu Ani dan merangkulnya ketika Ibu Negara tengah bersalaman di tengah kerumunan orang. "Itu kan kita bisa menilai foto itu terlalu memaksakan," ujar Aldi.

M. Jusuf Rizal, pendiri organisasi pendukung Yudhoyono dalam pemilihan presiden 2004, Blora Center, mengaku sudah lama mengenal Bunda Putri. Bunda Putri, dia menuturkan, adalah sukarelawan aktif pendukung Yudhoyono pada 2004. "Dia sangat getol membantu SBY," ujarnya.

Setelah Jusuf mendirikan Lumbung Informasi Rakyat (Lira), Bunda Putri mengundang Jusuf ke Grand Cafe. "Dia mentraktir kami di sana," ujarnya.

Saat itu Bunda Putri memperkenalkan diri sebagai penasihat Petronas, lantas membahas rencana penanaman pohon pinang di Kalimantan Barat. Niat itu disambut Jusuf dengan menggandengnya menjadi Ketua Umum Lira Hijau, organisasi sayap Lira. Sedangkan anak Bunda, Peni Fernita, masuk ke koperasi Lira.

Bunda Putri juga ikut dalam perhimpunan bentukan Jusuf lainnya, yakni Komunitas Masyarakat Cinta Indonesia. Saat ramai-ramai sidang Panitia Khusus Hak Angket Century di Dewan Perwakilan Rakyat, ia bersama komunitas ini membela kebijakan bailout Bank Century.

Jusuf mengatakan Bunda Putri juga menjadi anggota Dewan Pembina Lira. Namun, belakangan, tuturnya, Bunda Putri tidak terlalu aktif.

Terakhir mereka bertemu di Hotel Meritus di Surabaya. Saat itu keduanya menghadiri Musyawarah Nasional II Barisan Indonesia, organisasi yang menyokong Yudhoyono pada pemilihan presiden 2009. Dalam acara itu, Gita Wirjawan terpilih sebagai ketua umum.

Gesitnya Bunda Putri dalam melakukan lobi dilihat Aldi tak lepas dari kemahiran bekas mertuanya tersebut meyakinkan orang. "Cara dia berbicara memang meyakinkan sekali. Itu modal sehingga orang jadi mau berbisnis dengan dia."

Bagi Aldi, klaim kenal dengan pejabat hanya bualan Bunda Putri. Namun, faktanya, daya lobi Bunda Putri bukan sekadar yang tampak pada foto di pigura.
Malam pergantian tahun 2011 ke 2012, Desa Cilimus, Kuningan, Jawa Barat, geger. Hari itu Hajah Putri memboyong Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng ke desa asalnya tersebut.
Bahkan turnamen catur dan kartu domino tingkat Desa Cilimus sampai diliput koran lokal gara-gara Andi yang membuka. Andi juga sempat ikut bermain catur setelah ikut memberikan santunan kepada anak yatim.

Kala itu Andi berujar baru dua kali berkunjung ke Kuningan. Pertama ke Linggajati bersama Presiden Yudhoyono dan kedua kalinya ke rumah Bunda Putri di Cilimus.

Berdasarkan penuturan warga Cilimus, Bunda Putri pernah bercerita, dia dan Menteri Andi sudah seperti saudara. Awalnya sejumlah warga meragukannya. Karena itu, ketika Andi bersama istri, anak, dan ibunya datang ke rumah Bunda Putri, kehebohan pun terjadi.

Menurut sumber tersebut, Andi sekeluarga tiba siang hari dan menginap di Cilimus. Saat itu Andi ditemani Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Hasanuddin Ibrahim, yang oleh warga dikenal sebagai suami Bunda Putri.
Ketika dimintai konfirmasi mengenai lawatannya itu, Andi enggan memberi tanggapan. β€œMasalah Bapak sudah banyak, jadi jangan dilebar-lebarkan,” kata Iim, salah satu kerabat Andi, kepada majalah detik saat mendatangi rumah Andi di bilangan Cilangkap, Jakarta Timur.

Bukan hanya Andi yang bisa dilobi Bunda Putri. Dari rekaman percakapannya dengan Luthfi, perempuan yang menggunakan gelar insinyur itu pun sukses melobi seorang menteri dari PKS. Sang menteri yang dijulukinya Haji Susu itu bahkan bersedia dia ajak membahas sebuah skenario hingga dini hari.



(asy/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads