Jumat di pertengahan September lalu, empat mobil mewah terlihat di rumah yang tidak jauh dari Pondok Indah Mall itu. Namun tidak ada aktivitas berarti di dalamnya. Majalah detik yang menyambangi rumah itu selama beberapa hari tidak pernah dibukakan pintu.
Rumah itu beberapa tahun belakangan ini dihuni oleh Non Saputri. Dari berbagai pengakuan yang diperoleh majalah detik, Non Saputri adalah nama asli Bunda Putri. Nama ini ngetop karena percakapannya dengan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq tersadap Komisi Pemberantasan Korupsi dan diputar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat bercakap dengan Luthfi itu, Ridwan mengatakan Bunda Putri sedang marah-marah. Ia kemudian menyerahkan telepon kepada Bunda Putri. "Ini Bunda mau bicara," katanya kepada Luthfi.
Percakapan Bunda Putri itu kemudian mengundang kehebohan, bahkan hingga sekarang ini. Terutama karena rekaman itu menunjukkan sosok Bunda Putri sangat berkuasa. Perempuan tersebut bisa dengan bebas memarahi Luthfi, yang saat itu menjabat Presiden PKS. Ia pun bisa memanggil Luthfi ke rumahnya untuk memberikan laporan.
Adapun Luthfi menyebut perempuan yang dipanggilnya dengan sebutan 'bunda' itu mempunyai peran besar. Tugasnya adalah mengkondisikan para decision maker.
Selain itu, istilah dan nama-nama yang diucapkan Bunda Putri memantik rasa penasaran. Berbincang akrab dengan Luthfi, perempuan berambut pendek ini amat fasih menyebut Baperjakat atau Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan. Keberadaan badan ini lazim di setiap kementerian. Tugasnya membahas penggantian pejabat eselon I dan II.
Bunda Putri juga menyebut TPA, singkatan dari Tim Penilai Akhir. TPA adalah lembaga pimpinan wakil presiden yang bertugas menggodok nama pejabat eselon I yang diusulkan Baperjakat. Jajaran direksi badan usaha milik negara juga dibahas di lembaga ini. Bunda Putri pun dengan lancar menyebut istilah 'reshuffle' alias pergantian menteri oleh Istana.
Selain itu, ia menyebut sejumlah nama, seperti menteri, Haji Susu, Dipo, Pak Lurah, Mas Bud, Mahpudin, Fathan, dan Si Mahmun, yang mengundang tanda tanya.
Rekaman itu diputar dalam sidang kasus suap impor daging sapi pada Kamis, 29 Agustus 2013. Tapi sejatinya Ridwan, Luthfi, dan Bunda Putri tidak sedang membicarakan impor daging sapi. Yang mereka bahas adalah penempatan seseorang bernama Fathan sebagai pejabat di Kementerian Pertanian.
Dalam rekaman itu, dengan suara serak karena baru keluar dari rumah sakit, Bunda Putri melampiaskan kekesalannya kepada Luthfi. Sebab, Fathan akhirnya tidak dimasukkan dalam daftar pejabat yang dibahas Baperjakat. Padahal, Kamis malam pekan sebelumnya, ia membujuk sang menteri. Bahkan menteri tersebut berada di rumah Bunda Putri di Pondok Indah itu sampai pukul 01.00 WIB, Jumat, khusus untuk membahas penempatan Fathan.
Ia keki karena janji sang menteri tidak terealisasi. Bunda Putri merasa lobinya hingga dini hari itu, bahkan sampai mengantar sang menteri hingga di depan pintu, sia-sia. Ia heran mengapa kenyataan yang terjadi berbeda, padahal sang menteri sudah mengiyakan permintaan Bunda. "Masak seekor Fathan, hanya seorang Fathan, Bunda dikhianati. Oh, bunda tidak terima," katanya.
Karena keinginannya itu tidak dituruti, Bunda Putri merasa malas mengurusnya ke TPA. Karena itu, dia mengancam akan mengadukan si menteri yang disebutnya dengan panggilan Haji Susu itu kepada Pak Lurah agar diganti dalam reshuffle.
"Nanti saya ngomong sama Pak Lurah. Bener apa yang kamu bilang tentang Pak Haji Susu itu. Sudah, babat saja," katanya kepada Luthfi, yang selama pembicaraan beberapa kali mengucap 'ya Allah' dan 'astagfirullah' sebagai bentuk penyesalan kepada Bunda Putri.
Berdasarkan penelusuran majalah detik, sekitar Januari 2013 forum Baperjakat, yang dipimpin Menteri Pertanian Suswono, memang sedang menggelar pertemuan. Bukan untuk jabatan eselon I (direktur jenderal), mereka membahas pengisian jabatan eselon II.
Saat itu, menurut sumber di Kementerian Pertanian, muncul nama Fathan Al Rasyid, yang diusulkan sebagai Direktur Pemasaran Domestik di Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, yang waktu itu dijabat Mahpudin. Posisi Mahpudin sangat strategis, yakni sebagai pejabat yang mengurus surat Rencana Impor Produk Hortikultura.
Fathan ternyata adik kandung mantan Bupati Sambas Burhanuddin A. Rasyid. Ia sempat menjabat Kepala Dinas Pertanian Kalimantan Barat. Selanjutnya, ia menjadi Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, lalu Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Dalam pemilihan Gubernur Kalimantan Barat tahun lalu, ia maju sebagai calon wakil gubernur berpasangan dengan Armyn Ali Anyang. Salah satu pasangan lawan adalah kakaknya sendiri, Burhanuddin, yang mendampingi Morkes Effendi.
Namun, masih menurut sumber itu, mayoritas anggota Baperjakat Kementerian Pertanian menolak Fathan diberi jabatan sebagai direktur pemasaran domestik. Sebab, Fathan bukan berasal dari kalangan Kementerian. Fathan akhirnya menjabat Direktur Budi Daya Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan hingga saat ini.
Sayang, Fathan tidak mau memberikan tanggapan saat beberapa kali dimintai konfirmasi mengenai namanya yang dijagokan oleh Bunda Putri."Saya sedang rapat," katanya saat dihubungi Kamis, 12 September lalu. Majalah detik mendatangi kantornya di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sehari berikutnya, tapi ia tidak berada di tempat.
Mengapa Bunda Putri bisa mengatur jabatan di kementerian? Dia mengaku memiliki hubungan dengan para pejabat negara. Untuk meyakinkan pengakuannya, Bunda Putri memajang foto-fotonya dengan para pejabat di rumahnya.
Salah satu foto yang beredar adalah foto Bunda Putri dengan Tuti Iswari, adik kandung Wapres Boediono. Saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu, Tuti mengaku kenal Bunda Putri. Namun, Tuti mengakui hubungannya dengan Bunda Putri sebatas teman. Dia tidak tahu menahu tentang sepak terjang Bunda Putri sebagai makelar jabatan. Kini, Tuti juga mengaku tidak bisa menghubungi Bunda Putri.
(asy/asy)











































