Dari pantauan pukul 09.00 WIB, Jumat (18/10/2012), dercikan air terdengar di tengah padatnya arus lalu lintas kendaraan bermotor di jalur trase basah KBT.
Semilir bau tidak sedap tercium dari aliran sungai tersebut. Pasalnya tumpukan sampah sepanjang aliran tersebut mulai terlihat membentuk pulau-pulau kecil.
Kebanyakan sampah-sampah merupakan sampah non organik seperti plastik, styrofoam atau ranting-ranting kayu. Selain menciptakan bau tidak sedap, tumpukan sampah tersebut juga membuat kondisi KBT mengalami pendangkalan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyayangkan kondisi kanal tersebut yang mulai tidak terawat. "Selain itu kalau saya perhatiin beberapa bulan lalu petugas kebersihan yang biasa ngangkut sampah atau bersihin sudah mulai jarang kelihatan," imbuhnya.
Hal senada juga diceritakan Wahyu warga RT 01/03 Kelurahan Pondok Bambu menurutnya tumpukan sampah tersebut sudah lama tidak diangkut. Akibatnya banyak pulau-pulau kecil dari sampah tersebut.
"Akhir-akhir ini semakin banyak sampah di KBT. Saking banyaknya itu sampai bikin pulau kecil-kecil," ketusnya.
Selama menempati di sekitar KBT, Wahyu mengatakan kalau sampah-sampah dalam aliran tersebut bukan berasal dari warga sekitar KBT. Namun bawaan dari aliran-aliran kali yang terhubung ke KBT.
"Terkadang ada beberapa orang yang tidak tinggal disini juga buang sampah ke situ, udah gitu juga sampah dari hulu yang terbawa aliran," ungkapnya.
Perlu diketahui proses pembangun KBT sendiri telah selesai dari tahun 2010. Pemprov DKI juga membangun kanal di sisi timur untuk mengurangi 13 ancaman banjir di kawasan.
Selain itu kanal tersebut juga berfungsi sebagau prasarana konservasi air untuk pengisian kembali air tanah dan sumber air baku.
Setidaknya ada 7 aliran kali yang terhubung ke kanal banjir sisi timur. Pemerintah pusat menghabiskan uang sekitar Rp 5 triliun untuk membangun KBT. Kini sudah hampir 3 tahun semenjak dibangun kondisi KBT mulai mengenaskan dan tidak terawat.
(edo/fdn)











































