Demikian benang merah pesan yang disampaikan Ustad Jatmiko, biasa disapa "Uje" oleh masyarakat Pengajian Muslim Stockholm, dalam khutbah shalat Idul Adha di ibukota Swedia itu, Selasa (15/10/2013) waktu setempat.
Salah satu hikmah ibadah haji itu tersirat dari pakaian ihram, yakni hanya dua lembar kain putih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena pada galibnya pakaian mewarnai watak manusia. Pakaian dapat melambangkan pangkat, status dan perbedaan. Pakaian telah menciptakan batas-batas palsu yang menimbulkan perbedaaan dan perpecahan," papar Uje, yang sekaligus merangkap sebagai imam shalat.
Lanjut Uje, dari perpecahan ini biasanya lahir diskriminasi dan selanjutnya muncul konsep "aku bukan lagi kita". Aku digunakan dalam konteks seperti jabatanku, kedudukanku, golonganku, keluargaku, atau kelompokku.
"Aku berbeda dari kamu, aku lebih super daripada kamu, aku lebih hebat daripada kamu. Semuanya adalah aku sebagai individu yang sombong, congkak takabur, adigang adigung adiguna," terang Uje.
Dalam konteks ini Uje menyampaikan, bahwa jamaah haji sewaktu melaksakan prosesi haji harus melepas pakain kotor mereka yakni pakaian kesombongan, pakaian kekejaman, pakaian penindasan, pakaian penipuan, pakain kelicikan dan pakaian perbudakan yang kesemuanya melambangkan watak dan karakter manusia.
Mereka menanggalkan segala macam atribut keduniaan, pakaian kedinasan, jabatan, bintang kehormatan, gelar kesarjanaan dan lain-lain. Di tanah suci setiap orang, yang berbeda-beda warna kulit, bahasa, kebangsaan maupun status sosialnya itu dipandang sama.
"Semua diganti kain ihrom, yang melambangkan kesucian dalam rangka melanjutkan perjalanan menuju Allah, mencari makna hidup untuk menjadi manusia seutuhnya," pungkas Uje.
Shalat Ied yang mengawali perayaan Idul Adha di kalangan masyarakat Indonesia di Stockholm ini diikuti oleh sekitar 80 orang.
Suasana gembira dan haru mewarnai perayaan hari raya yang tahun ini jatuh pada musim gugur. Temperatur udara yang mulai dingin tidak menghalangi masyarakat dari penjuru kota Stockholm dan sekitarnya untuk merayakan Idul Adha dan shalat Ied bersama.
Perayaan dilengkapi dengan acara ramah tamah dengan hidangan menu lebaran yang tak kalah dari berlebaran di tanah air. Ada lontong terhidang bersama sayur lodeh, gulai kambing, opor ayam yang gurih, sambel goreng ati, dan kerupuk.
Tak lupa sajian aneka jajan pasar, pukis , wingko babat, es buah dan es teler serta tape uli ikut memeriahkan peringatan Idul Adha di Stockholm ini.
(es/es)











































