Seperti Bella, 22 tahun, warga Menteng Atas. Dia datang bersama , Ayu (22 tahun), Amy (17 tahun), dan Yasa (16 tahun). Berempat mereka ke pasar malam dengan naik motor. Mereka baru pertama kali datang ke pasar malam dan penasaran untuk keliling ke semua tenda dari ujung ke ujung.
Puas cuci mata, mereka berhenti di tenda Maman, penjual kue cubit. “Tadi lihat-lihat, banyak yang menarik. Tapi kita baru beli kue cubit ini saja, karena ini makanan zaman masih anak kecil. Jarang-jarang bisa ditemuin,” kata Bella kepada detikcom, Sabtu (12/10) malam akhir pekan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bella dan ketiga temannya memilih berdiri di tenda milik Maman agar terhindar dari gerimis. Apalagi di pasar malam itu memang tak banyak disediakan tempat duduk yang bisa jadi area nongkrong. Hanya tampak sekitar lima meja berpayung lengkap dengan kursi dari kayu.
Meski tak ada tempat duduk yang bisa untuk nongkrong, Ayu berencana datang kembali ke pasar malam pada kaki lima pada Sabtu berikutnya. Warga Bekasi, Jawa Barat ini mengaku ada beberapa barang yang sudah ia taksir.
“Tadi ada perhiasan dari mutiara Lombok asli. Harganya murah banget, gelangnya sekitar Rp 70 ribu,” kata dia dengan wajah berseri.
Meski tak berbelanja banyak, Ayu dan Bella mengaku puas bisa berkeliling di pasar malam. Bella membandingkan acara itu dengan pasar malam biasa yang sering digelar di dekat tempat tinggalnya.
“Aku lebih suka ini. Acaranya ini keren. Makanan yang dijual lebih banyak, ada hiburannya, dan penataan tenda-tendanya teratur. Ruangannya lebar, jadi lebih leluasa melihat-lihat tanpa harus mepet-mepet seperti di pasar malam biasa,” kata Bella.
Malam kian jauh meninggalkan senja. Kue cubit terakhir sudah lama habis dari wadah plastik di tangan Bella. Namun gerimis tak kunjung reda dari langit Jakarta. Suara penyanyi dari panggung di dekat Patung Arjuna masih terdengar melalui pengeras suara.
Penyanyi itu tak lagi mendendangkan lagu 'Hujan Gerimis', melainkan syair “Mari pulang, marilah pulang, marilah pulang, bersama-sama”.
“Wah cepat sekali, pasarnya sudah mau tutup ya,” kata Bella sambil melirik jam digital di telepon genggam yang menunjukkan angka 22.30.
Tepat setengah jam sebelum jam operasional pasar malam berakhir, jumlah pengunjung masih terlihat tetap ramai lalu lalang dan bertransaksi. Siapa sangka, jalannya waktu terasa terlalu singkat di Kaki Lima Night Market yang dibuka sejak pukul 17.00 itu.
(erd/erd)











































