ikan teri di asinine
eh jangan menangis aje
yang pergi jangan dipikirin”
Seorang perempuan berkebaya merah menyanyikan lagu karangan Benyamin Sueb itu dengan nada genit. Suaranya bersahutan dengan suara seorang penyanyi pria berkostum Betawi. Duo penyanyi lalu turun dari panggung dan mengajak penonton berinteraksi.
Lagu berjudul 'Hujan Gerimis' itu seolah mewakili suasana di jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta pada Sabtu (12/10) malam akhir pekan lalu. Hujan deras yang baru saja mengguyur Ibu Kota masih menyisakan gerimis di jalan sepanjang 1,1 kilometer itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mulai dari rombongan remaja, pasangan dewasa, keluarga muda, hingga orang tua yang datang dengan anak-anaknya. Mereka sengaja berkunjung ke pasar malam kaki lima dengan naik kendaraan umum, naik motor atau yang datang naik mobil.
Dua orang turis asing juga terlihat di antara kerumunan pengunjung. Mereka merapat ke panggung ukuran 4x4 meter yang berada di dekat air mancur kuda (patung Arjuna), mengabaikan rintik hujan.
Selain menikmati musik dan hiburan Betawi, sebagian pengunjung lalu lalang di jalanan selebar tiga meter yang diapit jajaran tenda-tenda putih.
Pekan lalu untuk kedua kalinya pasar malam untuk kaki lima digelar di Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI menyelenggarakan acara itu setiap malam minggu. Ada sekitar 200 tenda yang disiapkan pada area pasar sepanjang 430 meter, mulai dari patung Arjuna hingga dekat Stasiun Gambir di jalan Medan Merdeka Timur.
Jika datang dari Medan Merdeka Barat, para pedagang kuliner berjajar di sebelah kanan, dan pedagang pakaian, hiasan dinding, sepatu, tas serta aksesoris dan perhiasan dari mutiara ada di sebelah kiri jalan. Harganya tentu saja miring.
Yang menarik dan paling banyak dikerubuti adalah tenda-tenda kuliner. Beragam makanan Betawi seperti laksa pengantin, bubur ase, toge goreng, laksa, asinan Betawi, dodol, kue rangi, kue putu mayang, kerak telor, juga selendang mayang.
Kuliner dari daerah lain pun tak kalah banyak seperti nasi Bali, nasi gudeg Yogja, bir pletok, wedang jahe, sosis, tahu bakso, soto mi, tahu gejrot, tahu buaya, kebab, hingga kripik singkong dan kripik kentang siap memuaskan hasrat icip-icip para pengunjung.
“Acaranya bagus. Suasananya ramai dan bikin kami terhibur. Di sini kami bisa ketemu orang banyak dan berinteraksi meski sebelumnya enggak saling kenal,” kata Komar, salah satu pengunjung yang datang dengan istri, anak dan keponakannya.
Komar lalu sibuk menelusuri tenda demi tenda. Sesekali mereka berhenti jika melihat barang yang menarik mata. Kelima anggota keluarga Komar berbaur dengan ribuan pengunjung malam itu.
Meski sempat dilanda hujan, jumlah pengunjung pesta pedagang kaki lima pada akhir pekan lalu itu diperkirakan mencapai 10 ribu orang.
“Pengunjungnya lumayan, hari pertama lebih banyak karena ada gubernur, sampai 15 ribu orang. Hari kedua sekitar 10 ribu karena memang sempat hujan deras,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro Kecil Menengah dan Perdagangan (KUMKMP) DKI Andi Baso Mappapoleonro kepada detikcom.
(erd/erd)











































