"Peraih BHACA 2013 adalah Bapak Basuki T Purnama atau Ahok. Dia bersih, transparan dan pro (pemberantasan korupsi). Beliau terjun di politik atas dasar pengorbanan, kejujuran, dan pelayanan. Kita lihat konsistensi beliau sejak jadi anggota DPRD, bupati, anggota DPR dan wagub Jakarta," ujar Betti Alisjahbana, Ketua Dewan Juri BHACA 2013.
Betti mengatakan itu dalam jumpa pers di Sari Kuring Restaurant, SCBD Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (16/10/2013). Acara itu dihadiri Ketua Harian Umum BHACA Natalia Soebagjo, Ketua Dewan Pendiri Clara Juwono, pengurus BHACA Teten Masduki dan anggota juri yang terdiri dari Rikard Bangun, Lucky Djani dan Agung Pambudhi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Betti menuturkan, Ahok mengkaji ulang dan memangkas anggaran untuk efisiensi. Hal ini membuka mata publik untuk ikut melakukan pengawasan penggunaan anggaran.
"Dia (Ahok) rutin melaporkan penerimaan gaji gubernur dan wagub. Menyiarkan rapat anggaran melalui Youtube, dan Pak Basuki meminta Dinas PU memotong anggaran 25 persen," kata Betti.
Betti menambahkan, transaksi keuangan Pemprov DKI kini transparan apalagi ditunjang dengan transaksi online. Sistem itu juga mengawasi pengelolaan keuangan BUMD. Transaksi itu akan diaudit auditor dibantu Badan Pemeriksa Keuangan Provinsi.
Ahok, lanjut Betti, juga menerapkan pembayaran pajak sistem online dan menelurkan ide menerapkan CCTV di seluruh pusat pelayanan masyarakat dan puskesmas.
"Jadi CCTV terkoneksi online dengan kantor wagub untuk meningkatkan pelayanan masyarakat," imbuh dia.
Dirut PLN Nur Pamudji
Ahok mendapat penghargaan dari kategori pemerintah daerah. Sedang kategori BUMN, penghargaan dianugerahkan kepada Dirut PLN Nur Pamudji. Nur dinilai berkomitmen menjadikan PLN perusahaan yang bersih.
"Jadi Pak Nur menjalankan program PLN bersih," kata Betti.
Nur juga memastikan terlaksananya Good Corporate Governance (GCG) di PLN, mereview pelayanan pelanggan agar bebas dari KKN dan gratifikasi. Partisipasi integritas transparansi dan akuntabilitas serta blowing system.
"Jadi kalau masih ada karyawan yang melanggar kode etik bisa langsung dilaporkan. Dan ada pengelolaan gratifikasi," tutur Betti.
Bahkan, lanjut Betti, keseriusan Nur dalam 'membersihkan' PLN dilihat dari inisiatif menjalin kerja sama dengan Transparency International Indonesia.
"Langkah yang dilakukan PLN itu agent of change, sosialiasi anti suap. Menerbitkan pedoman pengendalian gratifikasi. Menerbitkan buku Saatnya Hati Bicara, kumpulan buku curhat pegawai menentang tindakan koruptif. Di buku itu bisa dilihat cerita karyawan PLN yang menolak korupsi suap dan gratifikasi. Tantangannya luar biasa," beber Betti.
Nur juga dinilai tidak goyah menghadapi gangguan politisi dan birokrat yang ingin mendapatkan hak khusus atas listrik. Nur juga melakukan ASEAN Workshop dan Forum APEC.
"Kita melihat dalam BHACA beliau menenuhi 2 hal yaitu tidak melakukan korupsi dan melakukan upaya sistematis, masif, dan menolak KKN," kata Betti.
Penghargaan BHACA akan diserahkan pada 31 Oktober 2013 di Graha CIMB Niaga, Sudirman, Jakarta.
(nwy/nrl)











































