Wahyu menceritakan peristiwa yang terjadi hari Kamis (10/10/2013) lalu itu tepat terjadi di depan matanya. Saat itu, sejak dini hari Wahyu dan teman lainnya yang juga berprofesi sebagai penjaga proyek rel ganda yaitu Legiman, Andi, dan Budiarto berkumpul di rumah Soleh. Wahyu sempat mencurigai motor yang beberapa kali melintas di depan gang di dekat rumah korban.
"Motornya Supra Fit, pakai helm cakil putih, jaket hitam, celana hitam, dan sepatu hitam. Tubuhnya gempi agak pendek," kata Wahyu kepada detikcom di Jalan Imam Bonjol Semarang, Rabu (16/10/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak ada percakapan, langsung ditembak. Tembakan pertama kayaknya tidak kena. Kami langsung lari. Sebelum tembakan kedua mas Soleh teriak 'ampun, pak' sebanyak dua kali. Nembaknya dekat sekali enggak ada 5 meter," tandas Wahyu.
"Orang itu (pelaku) bawa ransel hitam dan dibawa di depan dada. Pas datang sempat kesangkut portal," imbuhnya.
Ketika pelaku berusaha kabur, Wahyu memberanikan diri mengejar pelaku. Namun pelaku tersebut sudah kabur menaiki motornya. "Sudah kabur dan waktu saya kembali mas Soleh sudah terkapar di depan rumahnya," sambungnya.
Rekan korban lainnya, Budiarto menambahkan, sebelum kejadian tepatnya hari Rabu (9/10) pukul 22.00 ia melihat pria dengan ciri-ciri yang sama dengan pelaku yang dilihat Wahyu berada di lokasi proyek rel ganda di dekat Stasiun Tawang. Pria tersebut berdiri sekitar 25 meter dari Budiarto dan teman-temannya. Namun saat didekati dan ditanya tujuannya datang ke lokasi proyek, pria tersebut pergi.
"Sudah berjarak satu meter tapi begitu ditanya malah pergi," imbuh Budiarto.
Sementara itu, orang yang dihubungi Soleh ketika peristiwa terjadi ternyata adalah kuasa hukumnya, Budi Sekoriyanto. Ia dihubungi korban dua kali. Pertama pukul 02.33, saat itu korban meminta perlindungan karena merasa diteror sejak berusaha mengungkap kasus pencurian rel. Budi kemudian menghubungi Polsek Semarang Utara namun tidak mendapat respons. Tak berselang lama, pukul 02.37, korban kembali menelepon dan mengaku ketakutan.
"Saya mendengar tembakan pertama, dia bilang 'ampun, pak'. Setelah tembakan kedua saya dengar istrinya berteriak 'ada apa, pak'. Kemudian telepon mati dan ternyata handphonenya tidak diketahui di mana," terang Budi.
Ia menduga penembakan terkait dengan pencurian bagian rel yang terjadi sekitar dua minggu sebelum kejadian. Diketahui dua dari empat pelaku pencurian sudah ditangkap dan mengaku anak buah orang bernama Danu yang pernah menantang Soleh berkelahi.
"Kami berharap polisi segera mengungkap dasarnya yaitu pencurian rel," tandasnya.
Selain itu, dari teriakan korban sebelum ditembak, menurut Budi kemungkinan dilakukan oleh aparat. Karena Soleh hanya memanggil "pak" kepada aparat. "Kemungkinan aparat atau polisi, lagipula yang punya pistol itu aparat," pungkasnya.
Dari lokasi kejadian, polisi mengamankan proyektil yang menancap di dinding rumah dan bersarang di tubuh korban. Diduga pelaku menggunakan revolver karena tidak ditemukan selongsong.
(alg/trw)










































