Kantor Gubernur Maluku Diserbu Pengungsi

Kantor Gubernur Maluku Diserbu Pengungsi

- detikNews
Selasa, 09 Nov 2004 13:09 WIB
Ambon - Kantor Gubernur Maluku di Jl Pattimura Ambon, sejak kemarin hingga Selasa (09/11/2004) terus diserbu pengungsi. Ratusan pengungsi yang memadati bagian depan ruangan Asisten II Pemda Maluku ini menunggu dibagikannya kartu tanda terima bahan bangunan rumah (BBR).Pantauan detikcom, pengungsi ini datang dari berbagai kamp yang tersebar di kota Ambon. Desak-desakan tak terhindarkan. Bahkan Asisten II Serda Maluku terlihat juga saling dorong dengan para pengungsi di pintu masuk ruangannya.Dua pegawai Asisten II yang sejak pagi melayani pengungsi terlihat kerepotan. Tak pelak, sekali-kali terjadi adu mulut antara kedua pegawai itu dengan pengungsi, utamanya tentang sistem peta blok yang digunakan Pemda Maluku maupun data pengungsi.Pengurusan ini memunculkan ketidakpuasan sebagian pengungsi. Kepada detikcom, Ratmi Abdullah (47) pengungsi asal Ruko Batu Merah Kecamatan Sirimau, menuturkan, sistem yang diterapkan Pemda saat ini memusingkan dan sangat berbelit-belit."Kita terpaksa urus baru lagi. Tiap tahun kita hanya melakukan pengurusan baru. Entah tahun depan sistem baru lagi. Ini sudah lima tahun belum juga selesai," cetus dia.Hal yang sama disampaikan Renhard Tuapetel (32), pengungsi asal Rumahtiga Kecamatan Baguala. Menurutnya, pendataan pengungsi sejak awal sudah salah. "Pendataannya sudah salah sejak awal. Makanya banyak terjadi manipulasi data pengungsi. Dan ini sangat merugikan kami, para pengungsi yang sebenarnya. Kami ini sudah menunggu lima tahun, tapi tiap tahun kebijakan yang ditempuh selalu berubah-ubah,"keluh Renhard.Menyikapi soal ini, Aisten II Rahman Soumena kepada detikcom menampiknya. Dikatakan, sistem yang saat ini digunakan sangat efektif. "Malah sistem ini yang meminalisir manipulasi data pengungsi. Sesama pengungsi akan tahu di mana letak rumah terbakar maupun hancur. Jadi yang bukan pengungsi tidak bisa macam-macam," ujarnya. Dia juga menjelaskan, sistem yang diterapkan ini sebelumnya sudah melewati sebuah diskusi dan kajian yang matang, sehingga segala penyimpangan dapat diketahui.Kepadatan pengungsi mulai berkurang pada pukul 14.00 Wit. Bahkan sebagian pengungsi yang belum mendapatkan kartu BBR-nya terpaksa harus pulang. "Besok saja, kita kan lagi puasa. Yang penting bisa dapat," alasan Rohani Hatala, salah seorang pengungsi Ahuru. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads