Program KJS Jokowi Masih Amburadul

Setahun Jokowi-Ahok

Program KJS Jokowi Masih Amburadul

- detikNews
Rabu, 16 Okt 2013 11:17 WIB
Program KJS Jokowi Masih Amburadul
Jokowi saat membagikan KJS di Puskesmas Koja, Jakarta Utara, akhir Mei lalu. (Foto: Sukma Indah Permana)
Jakarta - Genap setahun Jokowi Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memimpin Jakarta. Salah satu yang menjadi program andalan mereka adalah Kartu Jakarta Sehat (KJS). Bagaimana pelaksanaan realisasi fasilitas kartu kesehatan untuk warga tidak mampu itu?

Tubuh Sarbini, 62, terbaring tidak berdaya di tempat tidur ruang Kelas III Seruni Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Budhi Asih, Jakarta Timur. Penyakit diare akut membuat wajahnya pucat dan harus sering bolak balik ke toilet di ruang perawatan.

Di sebelah Sarbini, ada istrinya Siti Maimunah, 50, yang setia menjaga. Lima hari perawatan di rumah sakit diakui Maimunah tidak dikenai biaya alias gratis karena menggunakan fasilitas Kartu Jakarta Sehat (KJS). Paling hanya membayar tebusan obat yang tidak ada di apotek RS Budhi Asih.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maimunah dan Sarbini yang hanya bekerja sebagai penjual bensin eceran dengan pengasilan per hari hanya Rp 60- ribu, mengaku sangat bersyukur karena sekarang jasa dokter, rawat inap, tes laboratorium sudah ditanggung oleh KJS.

Mendaftar dan menyerahkan berbagai syarat untuk KJS sudah dilakukan Maimunah sejak delapan bulan lalu. Tapi, KJS baru bisa diperoleh pada pertengahan Agustus lalu. Sebelumnya, pada Juni lalu, Sarbini juga pernah dirawat selama tiga hari karena sakit yang sama. Namun, karena saat itu KJS belum jadi maka biaya rumah sakit sebesar Rp 2,5 juta ditanggung sendiri.

Maimunah memperkirakan biaya perawatan lima hari sudah sekitar Rp 4 juta dan itu ditanggung KJS. “Paling nebus obat di luar yang pakai duit sendiri," kata warga Kelurahan Jatipadang, Jakarta Selatan, ini saat ditemui detikcom, Senin (14/10).

Secarik Kartu Jakarta Sehat sangat diharapkan oleh masyarakat ibu kota yang tak mampu. Tak ada asuransi dan jaminan pekerjaan tetap, KJS menjadi pegangan andalan masyarakat kecil untuk mengurus kesehatannya.

Agus Sulaeman, 46, warga Batu Ampar, Condet, Jakarta Timur, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek menganggap KJS untuk keluarganya adalah suatu rezeki yang luar biasa. Bapak lima anak yang hanya berpenghasilan rata-rata Rp 80 ribu per hari ini pernah diopname pada Juli lalu tanpa KJS.

Sudah tujuh bulan setelah mendaftar, KJS yang diharapkan tidak kunjung juga tersalurkan dari Puskemas tempat tinggalnya. Saat harus dirawat inap selama enam hari, pihak rumah sakit meminta surat rujukan dari Puskesmas yang menjamin dirinya benar adalah orang tidak mampu. Surat tersebut sebagai pengganti KJS.

“Juga pakai KK, KTP sama surat dari puskesmas. Waktu itu di rumah sakit habis Rp 3 juta, tapi gratis semua Alhamdulillah. Tapi, bolak-balik dan ngantre ke puskemasnya yang ribet,” ujarnya saat ditemui detikcom, Senin (14/10).

Agus pun sangat berharap janji Ketua Rukun Tangga tempat tinggalnya yang mengatakan akhir tahun ini KJS sudah bisa disalurkan. Pasalnya, ia punya tanggungan keluarga yang tidak punya jaminan kesehatan. “Kalau ada KJS kan bisa tenang. Mudah-mudahan KJS cepat jadi,” katanya.

Keluhan senada dilontarkan warga Batuampar, Condet, Sukarti, 46. Ia mengatakan di wilayah RT-nya belum ada satu pun warga yang sudah menerima KJS. Padahal, pendaftaran dan penyerahan berkas sudah dilakukan sejak tujuh bulan lalu. Bagi Sukarti, persoalan kesehatan sangatlah penting karena dirinya hanya sebagai buruh cuci pakaian di rumah tetangganya.

"Penghasilan kita kan gak seberapa. Kalau sakit dirawat pake KJS kan bisa bantuin,” kata Karti yang harus menjadi tulang punggung keluarga sejak suaminya di PHK sejak tiga tahun lalu.

Kesulitan memperoleh KJS juga dirasakan Hartini, 40. Warga Kelurahan Cipinang Melayu, Jakarta Timur, ini habis meminta rujukan Puskesmas dekat rumahnya yang menerangkan dirinya adalah keluarga tidak mampu.

Hal ini harus dilakukan karena putranya, Eko Permadi, 16, bakal rawat inap di ruang kelas III karena sakit demam berdarah dengue. "Rumah sakit minta rujukan dari puskesmas sekarang. Itu aja yang belum. Kalau yang lain sudah ada,” kata Hartini saat ditemui detikcom di RSUD Budhi Asih, Senin (14/10).

Hartini dan putranya merupakan salah satu dari ribuan warga DKI yang mendapat KJS salah cetak nama. Seharusnya fasilitas sudah bisa digunakan namun tidak bisa karena mesti proses lagi karena kesalahan nama.

Padahal, kelengkapan surat mulai dari formulir, fotokopi KTP, kartu keluarga, hingga akta kelahiran sudah diserahkan ke Puskesmas sejak awal tahun. Tapi, tidak disangka ketika akan dibagikan pada Juli lalu malah banyak salah nama.

Menurut Hartini, saat itu hanya puluhan nama yang benar di KJS. Sisanya, semua salah cetak dan mesti diurus kembali. Kapan jadinya KJS? "Saya tidak tahu," ucap Hartini lemas karena harus bolak-balik ke Puskemas mengurus surat keterangan pengganti KJS.

"Mudah-mudahan pas dibagikan lagi nanti punya saya dan anak beneran ada,” lanjut penjual gado-gado ini yang juga berharap tak ada kesalahan cetak lagi dan urusannya dipermudah rumah sakit.

Ditemui detikcom Kamis pekan lalu, Jokowi mengaku masih banyak yang harus dibenahinya. “Ya kan macet, banjir, ya persoalan lain itu ya. Dipikirkan dan dikerjakan satu-satu bertahap,” tutur Jokowi seraya buru-buru masuk ke mobil dinasnya.


(brn/brn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads