Delapan Suku di Jayawijaya 'Curhat' kepada Surya Paloh

Delapan Suku di Jayawijaya 'Curhat' kepada Surya Paloh

M. Rizal - detikNews
Minggu, 13 Okt 2013 00:33 WIB
Jakarta -

Perwakilan delapan suku di sekitar Pegunungan Jayawijaya, Papua, menemui Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh di Kantor DPP NasDem, Gondangdia, Jakarta. Tidak hanya berkeluh kesah, mereka juga ingin menjadi bagian dari perubahan atau restorasi yang diusung NasDem.

Kepala suku Moni, Gad Kobogau, Kabupaten Intan Jaya, mengatakan, dia bersama tiga orang temannya, mewakili semua suku yang berada di kaki dan lereng Pegunungan Jayawijaya. Suku tersebut adalah Moni, Dani, Amume, Kamoro, Panyai, Me, Damal, dan Duga.

Dalam dialog dengan Paloh, para kepala suku sangat kesulitan melapalkan kalimat demi kalimat dalam bahasa Indonesia, sehingga dibantu oleh tokoh muda Papua Maximus Tipagau.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelum dialog mereka menyerahkan topi Kepala Burung Cendrawasih, panah dan koteka.

Kepala Burung Cendrawasih, kata Maximus, sebagai perlambang bahwa burung emas berkepala emas tersebut hanya untuk orang-orang tertentu dan hanya dipakai pada hari-hari tertentu.

Sementara panah, jelasnya, adalah perlambang mencari nafkah. Artinya kemakmuran belum kunjung menjangkau sebagian besar masyarakat Papua selama bergabung dalam NKRI. Mereka terus bekerja keras di negeri yang kaya akan sumber daya alam.

Sedangkan koteka, ujarnya, Indonesia yang telah berusia 68 tahun, masih ada rakyatnya yang memakai pakaian seperti itu.

“Ini selain penanda adat Papua sebagai undangan secara adat agar Pak Surya Paloh bisa ke Papua, juga sebagai titipan harapan pada NasDem agar bisa mengubah keadaan kami di Papua,” kata Maximus dalam rilis yang diterima, Minggu (13/10/2013).

Menurutnya, pertemuan ini menjadi silaturahmi antara tokoh nasional dengan tokoh masyarakat Papua. “Dengan pertemuan ini diharapkan bisa memajukan Papua melalui ekonomi dan menjadi gerakan perubahan di Indonesia Timur,” imbuhnya.

Selain itu, mereka berharap bisa bersama-sama melakukan restorasi dengan NasDem, mengembangkan wilayah pegunungan tersebut. Antara lain, pengembangan SDM dan potensi sumber daya alamnya yang sangat luar biasa.

Pada kesempatan itu Surya Paloh mengatakan, dirinya telah mengagendakan untuk berkunjung ke Papua pada akhir Oktober mendatang. Ia berharap bisa mengunjungi warga ke delapan suku tersebut.

Paloh menambahkan, bagaimana pun yang disampaikan para kepala suku di Intan Jaya, Papua, tersebut adalah realita kehidupan saudara sebangsa dan setanah air.

"Dalam kapasitas saya sebagai Ketua Umum Partai NasDem, dengan tulus mereka menceritakan kehidupan di sana. Di tengah kehidupan yang terasa begitu sulit bagi mereka, ada semangat, ada suatu program yang bisa dikembangkan dari sektor ekonomi seperti perkebunan kopi,” jelas Paloh.

Dia menambahkan, dengan keterbatasan pengetahuan dan soal pemasaran yang mereka alami, NasDem dalam keterbatasan yang ada akan melakukan sesuatu yang bisa membantu memberi solusi.

“NasDem berempati dalam masalah ini. NasDem coba berikhtiar untuk membantu, seperti mencoba bekerja sama dengan perguruan tinggi seperti UGM dan universitas lainnya untuk membantu para petani kopi di Intan Jaya. Kita ada semangat semacam relawan,” tutur Paloh.

Menurutnya, paling tidak kalau ada tenaga-tenaga yang bisa diperbantukan, terutama mereka yang menguasai perkebunan kopi, pertanian, dan pengembangbiakan. "Mereka menjadi supervisi bagi petani di Intan Jaya, dengan misalnya tinggal selama setahun di sana. Cost-nya selama di sana akan dibantu oleh NasDem,” tandas Paloh.

"Kita ajak kerjasama anak-anak muda yang masih memiliki idealisme. Setahun misalnya. NasDem terus terang saja mengulurkan tangan walau dalam keadaan yang terbatas," tukas Paloh.

Dia mengaku, NasDem sebagai partai baru memiliki keterbatasan terutama menyangkut finansial. "Tapi dengan berpijak pada keterpanggilan hati dan dipayungi oleh semangat tinggi, seandainya ada saudara sebangsa setanah air lagi susah, maka NasDem ada bersama mereka.

"NasDem tak punya dana APBN, APBD, tak ada anggota DPRD, tak ada menteri, tapi di sana ada semangat, kita melakukan itu. Sekecil apa pun kita akan melakukan apa pun itu,” tegasnya.

Paloh menambahkan, selagi ada akal, maka solusi untuk berubah akan selalu ada. Terkait dengan masalah modal bagi petani di Intan Jaya dalam mengembangkan kopi, NasDem, katanya, akan mencoba menggandeng Bank BRI.

"BRI mungkin bisa memberikan bantuan dan pelatihan bagi petani kopi di sana. 10 petani jadi pun sudah bagus, 2 hektare atau 5 hektare bertambah menjadi 10 hektare pun sudah bagus,” pungkasnya.

Saat ini, Paloh mengaku, NasDem telah memiliki keseriusan pada isu pertanian. Bahkan, NasDem telah memiliki tujuh titik di Indonesia yang fokus mengembangkan pertanian dengan cara pembinaan. Antara lain pertanian singkong, padi, dan lainnya.

(zal/tor)


Berita Terkait