Suara keras Ribka tak cuma itu. Dia menyebut pemerintahan Atut-Rano tidak pro rakyat. Ia bahkan menyebut partainya sudah mencabut dukungan ke Atut dan Rano enam bulan lalu. Pencabutan dukungan karena Rano dianggap tidak bermanfaat buat partai dan rakyat Banten.
Ribka mengkritisi Rano yang lebih banyak diam meskipun menyadari banyak rakyat Banten yang masih miskin. "Dia nggak pernah berstatement apa-apa, tanya orang Banten. Dia kan seniman, tapi nggak pernah ngomong soal budaya atau acara apa, dia lebih di ketiaknya Atut," kata Ribka, Kamis (10/10/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rano yang merasa menjadi vote getter saat Pilkada Banten mengeluhkan tak pernah diberi tugas dan tak diberi akses bicara ke media. Rumor perpecahan Atut-Rano pun mengemuka. Curhat tersebut pun sudah sampai ke telinga Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, kala itu Mega melarang dan meminta Rano menyelesaikan tugasnya.
Rumor perpecahan yang sempat mengemuka tentu menunjukkan Rano Karno sudah berjuang untuk 'kemerdekaan'-nya, hanya terhalang oleh kedigdayaan kepemimpinan Ratu Atut. Sayangnya, rumor itu menguap, saat Ratu Atut bertanya langsung ke Rano, 'Si Doel' malah menegaskan dirinya sudah diberi tugas dengan baik oleh Ratu Atut dan tak pernah berniat mundur.
Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo menanggapi diplomatis serangan Ribka Tjiptaning ke Rano Karno. Menurut Tjahjo kritik Ribka soal pemerintahan kurang pro rakyat hal wajar, tanpa menjawab apakah benar Rano berada di ketiak Atut.
"Kalau ada kader partai mengkritisi kebijakan kepala daerah sah-sah saja, yang dianggap kebijakannya tidak pro rakyat," kata Tjahjo dalam pesan singkat, Jumat (11/10/2013).
Yang jelas, Tjahjo menegaskan, pernyataan Ribka soal pencabutan dukungan ke Rano Karno bukan sikap partai. Bagaimanapun juga PDIP ikut mengusung Atut-Rano di Pilkada Banten.
(van/nrl)











































