Arca Sisa Kerajaan Majapahit Diduplikasi, Aslinya Dijual

Arca Sisa Kerajaan Majapahit Diduplikasi, Aslinya Dijual

Prins David Saut - detikNews
Jumat, 11 Okt 2013 10:05 WIB
Arca Sisa Kerajaan Majapahit Diduplikasi, Aslinya Dijual
Jakarta - Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, memendam kejayaan kerajaan Majapahit. Di bawah tanah Trowulan, ada istana dan tata kota pusat kerajaan Majapahit seluas 112 kilometer persegi.

Namun istana itu tertutup oleh hamparan sawah dan pabrik. Jika pun ditemukan struktur bangunan dan arca, tak ada yang utuh. Sayangnya ada saja oknum yang mau mencari keuntungan pribadi dari saksi sejarah bisu kerajaan Majapahit itu.

"Teman-teman pematung juga ditawari membuat replika, jadi yang aslinya dijual dan yang replika dikembalikan," kata Direktur Eksekutif Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) Adrian Perkasa kepada detikcom, Kamis (10/10/2013).

Tidak hanya arca yang dipalsukan dan yang aslinya dijual, punden, tembikar, dan benda-benda lainnya juga dipalsukan. Hal ini muncul karena warga tak tahu ke siapa dan cara melaporkan temuan benda bersejarah itu.

"Banyak yang dipalsukan dan baru-baru ini mulai marak. Warga juga tidak tahu harus melapor ke mana. Jika mereka menemukan struktur, arca, atau lainnya tahu-tahu ada oknum yang menawari," kata Adrian.

Warga cenderung memilih untuk menjual temuannya itu dibandingkan melaporkan ke otoritas setempat karena sulitnya proses administrasi. Pemerintah pun dinilai tak akan bergerak menyelamatkan benda bersejarah itu jika tak ada laporan.

"Sekarang rezimnya administrasi, kalau tidak lapor tak ada tindakan. Ada juga alasannya kurang dana. Teman-teman di sana yang menemukan harus lapor, tapi sudah lapor tidak dihargai, lalu ada makelar pasar gelap. Itulah masalahnya," ujar Adrian.

Adrian menambahkan adanya pemikiran pemerintah jika Trowulan ditetapkan menjadi cagar budaya maka harus memindahkan penduduknya atau akan ada tuntutan ganti rugi. Padahal menurut Adrian tidak harus seperti itu.

"Belum tentu ganti rugi semua, seharusnya natural saja dan tidak perlu memindahkan satu desa. Kesannya ada kekurangan komunikasi antara warga dengan pemerintah," ujar Adrian.

Adrian kemudian menyarankan pemerintah Kabupaten Mojokerto dan pemerintah Provinsi Jawa Timur melakukan pemetaan situs-situs Majapahit seperti di Trowulan. Pemerintah juga diharapkan menyadarkan masyarakat sekitar situs pentingnya melestarikan peninggalan kerajaan Majapahit.

"Heritage mapping, dengan program ini bisa menyadarkan masyarakat, menemukan situs-situs lainnya. Negara belum punya peta seperti ini," ujar Adrian.

Situs Trowulan adalah bukti kejayaan Majapahit sebagai pusat pemerintahan kerajaan yang hendak menyatukan nusantara. Istana dan kompleks tata kota seluas 112 kilometer persegi terkubur di bawah 3 kabupaten di Jawa Timur berupa pabrik, sawah, dan 66 desa.

Setiap struktur bangunan dan arca yang ditemukan tak pernah utuh, dalam keadaan rusak. Kerusakan ini diperparah oleh pembangunan pabrik baja yang hanya berjarak 500 meter dari titik situs.

(vid/ahy)


Berita Terkait