"Motifnya karena hubungan pelaku dengan istrinya tidak direstui oleh korban. Tersangka mengaku 'Siapapun yang tidak merestui hubungan kita, akan tahu akibatnya'," ujar Kapolsek Duren Sawit, Kompol Imran Gultom di Mapolsek Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (10/10/2013).
Imran mengatakan kasus pembunuhan dilakukan pada 4 September 2011. Ketika itu Yoko datang ke rumah, dan bertemu dengan korban. Hal itu diceritakan Yoko dalam Bukti Acara Pemeriksaan (BAP).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil pemeriksaan tersangka tidak ditemukan unsur pembunuhan berencana. Pisau yang digunakan tersangka merupakan pisau dapur rumah korban.
Sementara Lisliana yang mendengar pengakuan Yoko geram. Lisliana menuduh Yoko berbohong karena ibundanya selama ini sangat baik padanya. Justru, Yokolah yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) pada dirinya.
"Tahun 2009 saya menikah sama dia. Selama pernikahan itu saya selalu disiksa bahkan dia sempat mengancam saya dengan pisau. Sebulan sebelum kejadian itu saya sudah mau cerai. Saya tinggal dengan ibu saya, cuma dia selalu cari-cari saya," kata Lisliana.
Lisliana mengakui bahwa sebelum menikah, ibundanya sempat tidak setuju dirinya menikah dengan Yoko. Setelah menikah, ibundanya berlaku baik pada Yoko. Namun Lisliana tidak menyangka bahwa Yoko bisa tega sedendam itu pada ibundanya.
"Yoko kamu jangan bohong! Ibu itu kurang baik apa sama kamu! Kamu kok malah tega ngebunuhnya. Saya nggak nyangka kalau dia setega itu. Pokoknya dia harusnya dihukum seumur hidup!" teriak Lisliana geram.
Sementara informasi dari penyidik, Yoko sempat dilaporkan ke polisi hingga masuk bui oleh ayah Lisliana saat mereka masih pacaran. Gara-garanya, Yoko melarikan Lisliana.
(edo/nwk)










































