Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Organisasi Angkutan Darat (DPP Organda) Eka Sari Lorena menganggap sah-sah saja pihak swasta ikut campur mengurus terminal. Namun, tetap pemerintah yang menyusun aturan main.
"Teror paling menakutkan, tentu jika harus mampir di toilet. Kondisi toilet-toilet yang disembunyikan di sudut terminal tidak 'manusiawi'. Andai wisatawan asing singgah, dia pasti sulit membereskan 'urusannya'," terang Eka dalam bukunya yang berjudul 'Ayo Lawan Kemacetan' seperti dikutip detikcom, Rabu (9/10/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kota New York membutuhkan solusi jitu untuk menekan kemacetan, dan sentralisasi terminal di pusat kota menjadi jawabannya," kata Eka.
"Heranlah kita saat dinas-dinas perhubungan di Indonesia memindahkan terminal bus makin ke pinggir kota," sambungnya.
Keterlibatan swasta, menurut Eka, karena didasari niat di tengah ancaman matinya angkutan umum perkotaan. Dengan semakin banyaknya kendaraan pribadi dan bobroknya angkutan umum, hal itu bisa saja terjadi.
"Coba beri kesempatan bagi perusahaan-perusahaan otobus untuk membangun terminal bus. Berikan ruang bagi kami untuk meningkatkan kredibilitas angkutan umum," kata lulusan University of San Francisco itu.
(dha/fdn)











































