Dikejar Petugas, Perempuan 'Kopang' Kabur Naik Sampan

Prostitusi Kopi Pangku

Dikejar Petugas, Perempuan 'Kopang' Kabur Naik Sampan

Idham Khalid - detikNews
Rabu, 09 Okt 2013 13:49 WIB
Dikejar Petugas, Perempuan Kopang Kabur Naik Sampan
Suasana siang di pelabuhan. (Fotografer: Rachman Haryanto)
Jakarta - Selepas magrib seorang perempuan masuk ke kawasan Pelubahan Sunda Kelapa dengan mengendarai sepeda motor, Minggu (06/10). Berbalut jaket merah ia menuju sebuah bangunan rumah. Tidak ada satupun barang yang dibawanya.

Selang beberapa menit kemudian, ia keluar dari rumah tersebut dengan berjalan kaki, Berkeliling sambil menenteng termos air panas dan keranjang kopi.

Dari kejauhan, wanita itu tampak mengangkat telepon genggamnya dan berbicara dengan seseorang di ujung telepon yang entah siapa dan berjenis kelamin apa. Setelah itu, ia berlalu, menyelinap dan menghilang di sebuah pertigaan.

Yanti, 31 tahun, salah satu wanita penjual kopi di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa mengungkapkan ia datang mengendarai motor tanpa membawa peralatan yang dibutuhkan untuk menjual kopi. Cara tersebut dilakukan agar tidak dicegat petugas yang menjaga di pintu gerbang pelabuhan yang memiliki sejarah panjang tersebut.

"Motor diparkirkan. Termos dan keranjang kopi juga dititipin biar petugas gak banyak nanya-nanya. Air panasnya beli di sini, Rp 7.000. Kalau mau pulang titipin lagi termos dan keranjangnya," ujarnya kepada detikcom, Kamis (3/10) malam.



Penelusuran detikcom, Pelabuhan Sunda Kelapa memiliki dua pintu masuk. Satu pintu memiliki penjagaan ketat dan tidak dibuka untuk 24 jam. Sementara pintu masuk lain, penjagaannya relatif longgar dan dibuka selama 24 jam sebab menjadi akses keluar masuk bagi warga setempat.

Rizal, 30 tahun, salah satu warga yang berada di Pelabuhan Sunda Kelapa mengatakan para wanita penjual kopi dan menyediakan layanan prostitusi tersebut tidak pernah membawa peralatan dagangannya saat memasuki areal pelabuhan. Biasanya, para wanita penjual kopi itu datang dengan menggunakan sepeda motor pribadi ataupun ojek agar tidak menarik perhatian petugas.

"Masuknya ya kayak biasa aja gak bawa apa- apa. Kalau bawa-bawa termos gitukan dicegat sama petugas, dilarang jualan kopi," kata dia saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (5/10) malam.

Menurutnya, beberapa kali petugas memang pernah menggelar razia pedagang kopi yang hanya beroperasi pada malam hari atau yang biasa dikenal dengan Kopang atau kopi pangku itu. Namun, wanita penjual kopi dapat lolos dari petugas dengan menggunakan sampan dan menyeberang ke Muara Baru Jakarta.

"Tempat seluas ini, banyak truk dan box, ya gampang sembunyi-sembunyinya. Tinggal taruh atau titip termos dan keranjang, mereka kabur. Ada juga yang lari pake sampan ke Muara Baru," jelas Rizal. "Seringnya razia KTP. Kalau razia pedagang kopi jarang," lanjutnya.

Hal senada diungkapkan Haris, 28 tahun, warga yang berdomisili di Sunda Kelapa. Para wanita penjual kopi tersebut dapat lolos dari penjagaan petugas karena ketika memasuki kawasan pelabuhan tidak mengenakan 'atribut' layaknya pedagang kopi keliling.

Jika ada razia, kata dia, pedagang kopi berdandan menor ini bisa kabur dan lolos dengan menggunakan jasa sampan yang dapat menyeberangkan mereka ke Muara Baru. "Naik sampan cuma Rp 3.000 ongkosnya. Gak sampai 10 menit juga nyampe ke Muara Baru," Kata Haris saat ditemui detikcom.

(brn/brn)


Berita Terkait