Prostitusi Kopi Pangku

Jika Ingin Lebih, Tarif Kopi Pangku Rp 100 Ribu-an

- detikNews
Rabu, 09 Okt 2013 12:38 WIB
Foto Ilustrasi (Fuad/detikcom)
Jakarta - Sebuah truk fuso warna putih tiba-tiba menyalakan lampu, namun hanya sebentar karena kemudian dimatikan kembali. Sesaat kemudian dari jarak 100 meter dari sisi kiri truk tersebut, seorang wanita penjaja kopi mendekat dan masuk ke kabin bagian depan.

Baru satu jam kemudian wanita penjual kopi tersebut keluar dari kabin truk. Sambil membetulkan posisi kerah baju yang belum tertata sempurna, dia melangkah menjauhi truk.

Udara di Pelabuhan Sunda Kelapa pada Kamis (3/10) malam pekan lalu itu sangat dingin. Namun beberapa kali si penjual kopi tersebut mengusap keringat di kening.

Penjaja kopi di Pelabuhan Sunda Kelapa tak jauh berbeda dengan pedagang sejenis di tempat lain. Menyajikan kopi kemasan layaknya dijual di warung-warung. Yang membedakan adalah soal harga.

Satu gelas kopi di Pelabuhan Sunda Kelapa harganya bisa mencapai Rp 10 ribu per gelas. Jika ingin sambil memangku dan meraba- raba si penjual, pembeli harus menambah uang sekitar Rp 30 ribu atau lebih, tergantung kesepakatan awal.

Bahkan, pembeli dapat melanjutkan transaksi ke hubungan seksual. Tentunya dengan tarif yang lebih mahal, yakni antara Rp 50 hingga Rp 100 ribu. Lagi - lagi tergantung kelihaian komunikasi.

Penjual kopi di Pelabuhan Sunda Kelapa juga gemar bersolek. Bahkan dalam waktu 10 sampai 15 menit sekali mereka membenahi make up di wajah.

Dandanan mereka juga tampak menor dengan pakain yang cenderung ketat. Obrolan-obrolan vulgar pun sering keluar dari mulut mereka. Aneka alat rias wajah tersimpan di keranjang, bercampur dengan kopi kemasan yang jumlahnya tak sampai 10 bungkus.

Yanti (31 tahun) salah satu penjual kopi mengatakan, kedipan lampu dari mobil truk fuso tadi adalah sebuah kode. Si awak truk minta kopi dan layanan seks.

"Istilahnya di sini kopi pangku, minum kopi sambil bisa mangku (penjual kopi)," kata Yanti kepada detikcom, Kamis (3/10) menjelang tengah malam.

Dia mengaku sudah 15 bulan menjadi penjual kopi di Pelabuhan Sunda Kelapa. Dia mulai menjajakan kopi sejak pukul 21:00 malam hingga menjelang Subuh.

"Kalau siang malam jualan ya gak kuat," kata Yanti sambil membetulkan posisi kaus ketatnya.

Menurut dia selain menjual kopi pangku, penjaja juga memberi layanan tambahan. Dari sekadar meraba, sampai hubungan intim layaknya suami istri.

"'Mainnya' bisa di dalam truk, di dalam atau luar kontainer. Kalau mau 'main' lebih nyaman ya ke hotel melati," kata wanita yang menawarkan tarif Rp 50 ribu untuk hubungan seksual ini.

Untuk memudahkan bertemu dengan pelanggan, ia dan penjual kopi lainnya memberikan nomor telepon genggam ke pelanggan.

Dengan menjual kopi di Pelabuhan Sunda Kelapa, Yanti mengaku dalam satu malam dapat membawa uang Rp 200 sampai Rp 500 ribu.

Penjual kopi lainnya adalah Minah (33 tahun). Di keranjang yang dia bawa hanya ada belasan bungkus kopi dan sebuah tas gendong kecil berwarna coklat.

Ibu satu anak ini mengaku hampir dua tahun menjadi pedagang kopi di Pelabuhan Sunda Kelapa. Berawal dari ajakan seorang teman, yang mengatakan bahwa berjualan kopi keliling di kawasan pantai tersebut mampu memperoleh keuntungan besar.

Namun, Minah mematok harga lebih tinggi untuk tarif berhubungan seksual di banding Yanti. Ia menawarkan harga Rp 80 ribu untuk sekali kencan.

"Kalau 'mainnya' di hotel saya mau nurunin (tarif) dikit," kata Minah.

Sama seperti Yanti, Minah juga mengaku bahwa nomor ponselnya sudah banyak disimpan para 'warga' pelabuhan untuk memudahkan mengetahui keberadaan pelanggan. "Capek kan kalau keliling doang tapi gak jelas, karena pelanggannya juga orang-orang sini (pelabuhan)," kata dia.

Yanti dan Minah hanya dua dari puluhan wanita penjual kopi di pelabuhan Sunda Kelapa.

(erd/erd)