Selasa (8/10/2013), detikcom berkesempatan menyambangi salah satu wilayah perbatasan yang menghubungkan Pulau Sebatik Kalimantan Rimur dengan negara Malaysia. Tempat itu bernama Tapal Batas Aji Kuning, di wilayah Pulau Sebatik bagian timur.
Perjalanan menuju Pulau Sebatik ditempuh selama 1 setengah jam menggunakan kapal milik petugas Bea dan Cukai dari Pulau Nunukan. Begitu sampai di dermaga Baru Pulau Sebatik, rombongan dipandu menuju Aji Kuning dengan perjalanan darat selama 20 menit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sebelah kanan posko pengamanan sudah merupakan wilayah Malaysia. Akan tetapi masih banyak warga negara Indonesia yang bertempat tinggal di wilayah Negeri Jiran tersebut.
"Disini kebanyakan sudah keluarga turun-temurun. Jadi yang di wilayah Malaysia dan Indonesia itu umumnya sanak famili," ujar Nirwala (42) WNI yang bertempat tinggal tak jauh dari tapak batas.
Nirwala merupakan salah satu dari sekian banyak warga Indonesia yang memiliki rumah di daerah perbatasan. Ayah 2 anak yang memiliki warung kelontong ini mengaku mendapatkan suplai barang dagangan dan kebutuhan pokok dari negara tetangga, yaitu dari daerah Tawau, yang masuk ke dalam wilayah negara bagian Sabah, Malaysia.
"Kebanyakan yang saya jual ini dari Malay. Kalau belanja pakai uang Ringgit," jelas pria Bugis tersebut.
Di warung Nirwala dijual berbagai macam bahan pokok serta makanan ringan yang kesemuanya berasal dari Malaysia. Satu potong kaos oblong bertuliskan 'Tawau' dibanderol Nirwala denga harga 19 RM atau setara dengan Rp 70 ribu. Beberapa orang rombongan bahkan menyempatkan diri mencicipi es krim potong rasa ketan hitam yang dihargai sebesar RM 1,50.
"Saya sekeluarga sudah sejak 1981 tinggal disini. Dari dulu sampai sekarang, kondisi disini tak banyak berubah. Padahal banyak pejabat yang kesini untuk berkunjung dan berfoto, tapi tak kunjung ada perbaikan," tuturnya.
Kondisi tapal batas yang merupakan titik pemisah antara Indonesia dan Malaysia tersebut memang cukup memprihatinkan. Di bagian belakang tapal ada sebuah sungai kecil dengan air berwarna keruh kekuningan akibat lumpur yang disebut warga dengan nama sungai Aji Kuning. Bau menyengat buah kelapa sawit yang telah membusuk menjadi hal biasa yang dirasakan warga perbatasan.
"Dulu, rawan sekali. Banyak yang selundupkan narkoba dan senjata dari perbatasan ini, tapi sekarang pengamanan sudab diperketat, jadi sudah jarang. Paling kalau ada makanan, minuman keras," ungkapnya.
Pulau Sebatik merupakan pulau terluar yang berbatasan langsung dengan wilayah Malaysia. Di Sebatik sendiri ada 18 patok yang membagi pulau ini menjadi wilayah Indonesia dan Malaysia. Sekitar 90 persen penduduk di Aji Kuning adalah orang Bugis. Mereka datang ke pulau ini lebih dari 30 tahun yang lalu.
(rii/rvk)











































