Data Balai Konservasi Sumber Daya (BKSDA) Kalteng menyebutkan, setelah bulan September 2013 tercatat sekitar 539 hotspot membakar lahan seluas 113,43 hektare, kini memasuki 1-6 Oktober 2013, sementara tercatat 346 hotspot dengan areal terbakar seluas 32,3 hektare.
"Setiap hari sejak awal Oktober, hotspot terus bertambah. Hingga tanggal 6 Oktober, Kalteng tertinggi memiliki hotspot di Indonesia dengan 346 titik," kata Petugas Deteksi Dini BKSDA Kalteng, Andreas Dodi, saat dihubungi detikcom, Senin (7/10/2013).
Dodi merinci, sejak tanggal 1 Oktober tercatat 1 titik dan bertambah menjadi 6 titik (2 Oktober), 55 titik (3 Oktober), 75 titik (4 Oktober), 56 titik (5 Oktober) dan 153 titik di 6 Oktober. Pada Senin (7/10/2013) pagi tadi, jarak pandang sempat berada kurang dari 1.000 meter.
"Dengan tingkat kelembaban yang sangat rendah, dalam 3 hari ini kabut asap sudah menyelimuti ibu kota Kalteng, Palangkaraya. Setiap hari, kami berupaya memadamkan 2-3 titik yang bisa kami jangkau," ujar Dodi.
"Umumnya lahan yang terbakar berupa lahan gambut dengan ketebalan hingga 3 meter. Dengan tingkat kelembaban rendah seperti ini, memang sangat rentan dan berisiko tingggi terhadap kebakaran lahan yang tidak terkendali, jadinya khawatir juga," tambahnya.
Masih dijelaskan Dodi, kondisi kabut asap berfluktuasi setiap hari, mengingat berdasarkan rekaman data Satelit NOAA, kebakaran lahan terjadi setiap hari sekitar pukul 10.00-15.00 WITA, terutama di kawasan lahan gambut di wilayah selatan Kalteng seperti di Kabupaten Kapuas, Pulang Pisau, Barito Selatan, Kotawaringin Timur, Katingan, Seruyan hingga Kotawaringin Barat.
"Dibanding periode yang sama Oktober 2012 lalu dengan jumlah 884 titik, kemungkinan angka 346 hotspot akan bertambah. Hari ini saja sudah tercatat 70 titik. Kami berharap masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan dengan alasan apapun," tegas Dodi.
"Yang jelas kami terus bersiaga dan petugas terus berada di lapangan, mengingat lahan gambut yang terbakar disertai rendahnya kelembaban. Kalaupun ekstrim, kami berharap cukup sampai di sini. Sebab, pemadaman kebakaran lahan gambut itu cukup memakan biaya besar dan dalam waktu yang tidak sebentar," tutupnya.
(jor/kha)











































