Gajah liar ini sudah lebih dari dua pekan ini berkeliaran di Desa Bancah Kelubi, Kecamatan Tapung, Kampar. Sekelompok gajah liar ini merusak perkebunan sawit yang berusia sekitar 2 sampai 5 tahun.
"Pohon sawit kami habis di rusak gajah liar. Kita takut untuk mengusirnya. Sudah lebih dua pekan gajah itu keluar masuk perkebunan sawit," ungkap Sunarto warga desa setempat kepada detikcom, Senin (7/10/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sudah laporkan masalah ini ke pemerintah. Namun belum ada tanggapan," kata Bismar warga lainnya.
Secara terpisah, Balai Besar Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, melalui Kepala Bidang Teknis, Sahimin kepada detikcom mengatakan, bahwa pihaknya sudah menerima laporan tersebut.
"Sepekan yang lalu tim kita bersama dinas kehutanan Kampar sudah mencoba mengusir kawanan gajah liar itu. Kalau hitungan dua hari ini masuk lagi, ya mungkin saja itu bisa terjadi. Nanti akan kami tindak lanjuti lagi," kata Sahimin.
Sedangkan Humas WWF Riau, Syamsidar mengatakan, gajah merupakan satwa yang sangat peka. Gajah tidak akan merusakan perkebunan sawit masyarakat, bila wilayah tersebut tidak bagian dari habitatnya.
"Gajah itu memiliki wilayah jelazah yang pasti. Jika wilayahnya berubah fungsi, tentunya gajah tersebut merusak tanaman yang biasa dilaluinya," kata Syamsidar.
WWF memperkirakan gajah liar tersebut berasal dari kawasan Hutan Taman Raya (Tahura) Sultan Syarif Kasim. Karena memang wilayah desa tersebut bagian dari kantong gajah di Riau.
"Jangan langsung menyalahkan gajah bila terjadi seperti itu. Bisa jadi lahan itu dulunya merupakan lintasan gajah," kata Syamsidar.
(cha/jor)











































