"Ini merupakan kejadian luar biasa," kata Harifin saat berbincang dengan detikcom, Senin (7/10/2013).
Menurut hakim agung yang pensiun pada 2012 lalu, kasus itu bukan hanya masalah individu tetapi masalah kelembagaan. Sebab dilakukan oleh ketua, simbol sebuah lembaga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 2011, MK digoncang dengan pengakuan kuasa hukum Refly Harun tentang adanya makelar perkara dalam sengketa pilkada. Saat itu, pengakuan Refly mengarah ke Akil Mochtar yang bermain mata. Namun Akil lolos karena dibela oleh MK.
"Yang paling bertanggung jawab sampai Akil ketangkap ya yang melindungi Akil di 2011," terang Harifin.
"Apakah Mahfud MD?" tanya detikcom.
"Haha...saya nggak menyebut nama. Yang pasti yang paling bertanggung jawab ya yang melindungi waktu itu," jawab Harifin yang bersama Mahfud saling menyimpan konflik batin kelembagaan yang berkepanjangan.
Kekhawatiran Harifin ditulis dalam buku biografi 'Pemukul Palu dari Delta Sungai Walanea'. Dalam Bab 'Bara Curiga Komisi Yudisial', pria kelahiran Soppeng, Sulawesi Selatan (Sulsel), ini mengungkap institusi MA saat diserang oleh berbagai lembaga negara kurun 2006 silam.
Mahfud MD yang menjabat anggota DPR saat itu meminta seluruh hakim agung yang berjumlah 49 orang harus diseleksi dan diuji kembali, karena masyarakat menilai hampir semuanya tidak ada yang bersih dan praktik mafia peradilan merajalela. Belakangan, kasus pemilu kepala daerah dipegang oleh MK.
"Putusan kasus pilkada yang dianggap tidak konsisten ternyata setelah ditangani MK tidak lebih baik sewaktu perkara pilkada ditangani MA dan Pengadilan Tinggi," tulis Harifin.
(asp/nrl)











































