"KPK perlu segera lakukan langkah tes urine dan assesment, tujuannya untuk memastikan dia konsumsi narkoba atau tidak," kata Deputi Pemberantasan Narkotika BNN, Irjen (Purn) Benny J Mamoto, saat berbincang dengan detikcom, Jumat (4/10/2013).
Dari tes itu akan diketahui apakah Akil positif mengkonsumsi narkoba seperti barang bukti yang ditemukan penyidik KPK kemarin. Serta sejauh mana Akil ketergantungan narkotika.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sikap serupa juga dialami BNN dalam pemeriksaan beberapa penyalahguna narkoba yang selalu mengelak meski dia tertangkap basah mengkonsumsi barang haram.
"Ini sudah banyak saya hadapi, seperti kasus pilot, hakim, Kolonel TNI AL, dan lain-lain," papar Benny.
Dia juga membandingkan dengan kasus kecelakaan maut dengan terdakwa Apriyani di mana sesaat setelah kecelakaan tidak memperlihatkan raut penyesalan dan bersalah. "Tapi lima hari kemudian histeris setelah sadar dan hilang pengaruh narkobanya," ujarnya.
Kepala Rehabilitasi BNN, dr Kusman Suriakusuma mengatakan, zat adiktif yang ada di dalam narkoba dapat menimbulkan perubahan pola pikir dan emosional.
"Jadi, kalau dia melakukan kesalahan kadang dia bertahan. Zat adiksi suka bikin orang lupa etika dia sebagai manusia," jelas Kusman yang tengah berada di Palangkaraya ini.
Dihubungi terpisah, Ketua Umum Gerakan Antinarkotika Nasional (Ganas) Nyoman Edy mengatakan, KPK diimbau untuk berkoordinasi dengan BNN terkait temuan narkotika di ruang kerja Akil Mochtar. "Yang terpenting BNN menyelidiki asal usul barang itu dari mana," kata Nyoman.
(ahy/rmd)











































