Para pendemo itu berasal dari kalangan mahasiswa, seniman, dan aktivis yang tergabung dalam Sanggar Hukum '82. Massa yang tak sampai 20 orang ini semula berdemo di Kantor Gubernur Sumut di Jalan Diponegoro, kemudian long march sekitar 500 meter menuju kantor PLN Area Medan di Jalan Listrik.
Sepanjang jalan, massa yang berpakaian serba hitam maupun bertelanjang dada dengan badan dicat warna hitam, membawa serta lilin raksasa yang diusung seumpama membawa keranda. Ada juga yang membawa obor, lampu teplok, dan juga piagam penghargaan.
Piagam itu merupakan modifikasi dari model piagam yang biasa diberikan Museum Rekor Dunia (MURI). Piagam yang dibingkai kayu itu bertuliskan, "Piagam Penghargaan Museum Rekor Dunia Dianugerahkan kepada PLN Sumatera Utara atas Rekor Pembiaran dan Penyelenggara Pemadaman Listrik Terlama dan Terpanjang di Indonesia Sepanjang Tahun 2013. Semoga Prestasi Ini Menjadi Kebanggaan Rakyat Sumatera Utara".
Di kantor PLN, kedatangan para pendemo itu disambut Manager PLN Area Medan, Zainuddin. Dia menerima piagam rekor itu yang diserahkan massa bersama lampu teplok.
"Terima kasih," ucap Zainuddin saat menerima piagam itu dan kemudian menunjukkan piagam yang dia terima kepada kalangan media.
Koordinator aksi demo Faisal menyatakan, mereka sudah tidak tahan lagi dengan pemadaman listrik yang terus terjadi di Medan. Setiap hari pemadaman bisa berlangsung hingga lima kali. Sudah banyak kebakaran, dan kerugian ekonomi yang terjadi akibat pemadaman itu.
"Sudah sekian lama berlangsung, dan mereka tidak mampu memperbaiki situasi ini. Makanya kita beri piagam rekor pemadaman terlama," kata Faisal.
Setelah menyerahkan piagam itu, massa melanjutkan aksi menuju gedung DPRD Sumut di Jalan Imam Bonjol. Aksi itu berlangsung tertib tanpa kawalan polisi.
(rul/trw)










































