Begini Cara Lurah Grace Dekati Warganya yang Mayoritas Muslim

Kontroversi Lurah Susan

Begini Cara Lurah Grace Dekati Warganya yang Mayoritas Muslim

Ropesta Sitorus - detikNews
Kamis, 03 Okt 2013 17:18 WIB
Begini Cara Lurah Grace Dekati Warganya yang Mayoritas Muslim
Lurah Grace (Foto: Ropesta Sitorus)
Jakarta - Rabu pukul 09.00 WIB kemarin, Grace Tiaramudi sudah sibuk berkutat dengan berkas-berkas di meja kerjanya. Wanita 50 tahun itu punya kegiatan baru sejak diangkat menjadi Lurah Pejaten Timur pada 27 Juni silam.

Sejak ia tiba sehabis apel pagi, kantornya tak pernah sepi oleh warga dan staf yang keluar masuk sambil membawa berkas.

Pada awalnya Grace Tiaramudi menolak untuk diwawancara detikcom. Wanita berkacamata ini enggan karena suasana di kelurahan tetangganya, Lenteng Agung, masih ada gejolak menolak lurah baru mereka, Susan Jasmine Zulkifli. Tapi penuturannya perlahan mengalir.

Grace memang pemeluk Kristen. Tapi dia tak mempermasalahkan saat harus memimpin di wilayah yang notabene mayoritas penduduknya beragama Islam.

“Saya gak kepikiran di sini banyak Islam, saya enggak pernah mengkhawatirkan itu,” katanya. Grace mengatakan alasannya karena dia punya basic di bidang gizi. Tugas sehari-harinya melayani masyarakat yang gizi buruk, busung lapar, dan banyak lagi.




Selama hampir 25 tahun dia melayani masyarakat di beberapa tempat di ibu kota. Pengalaman tersebut menanamkan jiwa pelayan bagi Grace.

Terbiasa menghadapi banyak orang dari berbagai latar belakang, juga membuatnya bisa melakukan pendekatan pada orang dengan berbagai karakter. “Saya gak pandang dia agama apa, suku apa. Yang saya justru khawatirkan itu kalau ada masalah di warga, ketika saya masuk apakah saya akan diterima,” ujar dia.

Meski mengaku tak punya teori khusus dalam pendekatannya ke masyarakat, Grace menyatakan ia menempatkan diri sebagai pelayan. “Saya cuma berpikir kita ini manusiawi, pendekatan yang saya gunakan dari hati dan jiwa pelayan saja,” kata dia.

Begitu mulai bertugas pada 1 Juli lalu, Grace langsung menyamakan visi dengan para staf internal di kantornya. Dia tak mau ada rasa sungkan yang berlebihan yang justru menghambat jalannya komunikasi.

“Tolong ya di sini saya berharap tidak ada perbedaan, kita sama-sama karyawan, kebetulan saja saya lurah. Jadi biasa saja, anggap saya teman,” kata dia kepada para stafnya. “Begitu kenalan dengan para ketua RT/RW saya juga bilang, bapak ibu saya di sini pelayan masyarakat.”

Upaya itu tak hanya jadi sekadar lip service. Grace membuktikannya dengan rajin turun langsung. Ia menghadiri kegiatan Posyandu, PAUD, ataupun undangan-undangan seperti penutupan pengajian dan buka bersama dari para warganya.

Pada saat buka puasa lalu, ia tak hanya mengundang warga ke kantornya dengan menyediakan takjil. “Kita juga ngider ke RW-RW ikut hadir dalam buka puasa bersama.” Grace juga selalu berusaha menyempatkan waktu ikut dalam kerja bakti yang digelar tiap Ahad.

Selain itu, ia juga pernah diam-diam naik motor sendiri untuk mencari tahu tentang masalah di lingkungannya. “Waktu itu masalah sampah ada yang ngadu, saya diam-diam saja ke sana naik motor. Sampai pak RT marah sama saya karena tak dikawal. Saya bilang saja, ‘emang ada peraturan lurah harus dikawal. Pak jokowi saja gak dikawal, jadi saya biasa sajalah.”

(brn/brn)


Berita Terkait