Selalu Ramai Tapi Rugi Melulu

Garuda Jakarta-Amsterdam Tutup

Selalu Ramai Tapi Rugi Melulu

- detikNews
Minggu, 07 Nov 2004 20:10 WIB
Den Haag - Tak ada lagi penerbangan Garuda ke Eropa. Tamat. Bagaimana mungkin Garuda yang selalu ramai penumpang bisa 'melipat sayap' alias gulung tikar?Dody Yasendri, Manajer Umum Garuda untuk Benelux, Swis, Skandinavia, Finlandia dan Prancis, menjelaskan bahwa kesannya Garuda memang selalu ramai penumpang. "Namun yang ramai itu kelas ekonomi. Tanpa diimbangi penjualan memadai kelas bisnis, ya rugi," kata Dody kepada detikcom di kantornya di Brachthuijzerstraat 4-8, Amsterdam, Jumat sore (5/11/2004) waktu setempat.Dody memaparkan kerugian yang harus dipikul Garuda untuk mengoperasikan jalur penerbangan Jakarta-Amsterdam per bulannya berkisar antara 900.000 sampai 1,6 juta USD. "Jika ini dipertahankan, maka akan menganggu cash-flow. Padahal Garuda juga harus membayar kewajiban-kewajibannya kepada para kreditor," ujar pria lulusan ITS Surabaya itu.Menurut Dody, kondisi seperti itu sangat dilematis. "Di satu pihak, kita ingin pertahankan Garuda sebagai flag carrier, tapi di sisi lain rugi terus secara bisnis," ungkap pria berkumis itu, seraya menambahkan bahwa untuk mempertahankan fungsi Garuda sebagai flag carrier itu biayanya mahal, sementara keuangan negara kita sedang dalam posisi berat. Apalagi, kata Dody, revenue yang diperoleh Garuda di Indonesia tidak bisa menyubsidi ke Amsterdam.Akhirnya Garuda memilih menyerah. Jalur bersejarah penerbangan Jakarta-Amsterdam yang telah diarungi secara langsung selama 39 tahun itu akhirnya ditutup per 1/11/2004. Penutupan jalur yang memudahkan mobilitas bangsa Belanda dan Indonesia itu sekaligus menjadi gong tamatnya penerbangan Garuda ke Eropa. Sebab, jalur ke London, Frankfurt, Paris dan kota-kota besar Eropa lainnya telah lebih dulu ditutup. Selanjutnya Garuda akan berkonsentrasi pada jalur ke Timur Tengah, Jepang dan domestik yang selama ini memberikan keuntungan. Bagaimana dampaknya bagi turisme, terutama turis Belanda yang memiliki akar emosional dengan Indonesia, Dody tidak bisa menjelaskan karena merasa bukan kewenangannya. Dia hanya menjelaskan bahwa yang jelas dampaknya pada turisme pasti ada.Sekedar tahu, sejak terbetik kabar bahwa Garuda akan menutup jalur penerbangannya ke Amsterdam, maskapai Malaysian Airlines (MAS) gencar berpromosi di televisi Belanda, antara lain menjajakan ecotourism kawasan Borneo yang asri dan perawan. Beberapa anak-anak pulau Borneo juga dijadikan sebagai lokasi program petualangan produksi televisi komersial. Kini paket-paket wisata ke Borneo yang terjaja di biro perjalanan di Belanda, adalah Borneonya Malaysia.Mengenai faktor inefisiensi dan praktik mark up yang mungkin menjadi bagian dari masalah, Dody mengatakan bahwa itu soal cerita lama sebelum 2000. "Sekarang hal itu sudah ditangani, meskipun kita tidak menutup mata bahwa kemungkinan itu masih ada. Saya sendiri akan menolak kalau ada pejabat mau naik Garuda minta pelayanan di luar yang seharusnya," cetusnya.Kini hampir pasti pasar Garuda yang ditinggalkan akan diambil-alih atau lari ke KLM Belanda, MAS Malaysia atau SQ Singapura. (es/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads