Diskusi PKS: Pancasila Harus Dijadikan Ilmu

Diskusi PKS: Pancasila Harus Dijadikan Ilmu

- detikNews
Selasa, 01 Okt 2013 17:17 WIB
Jakarta - Di dalam diskusi kebangsaan yang digelar oleh fraksi PKS dengan tema "Pancasila dalam Dinamika Politik Nasional" peneliti CSIS, J. Kristiadi menyatakan bahwa di masa Orde Baru Pancasila dijadikan sebagai alat konstruksi.

"Dulu dalam setiap pidato Soeharto pasti ada kata-kata 'Pancasila' dan 'menjalankan UUD 1945 secara konsisten', kemudian ada lagi dia bilang 'barang siapa mengkhianati Saya, berarti mengkhianati Pancasila' ini kan jelas menjadikan Pancasila sebagai alat politik," ujar J. Kristiadi di ruang pleno F-PKS DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (1/10/2013).

Akibat konstruksi tersebut, kini banyak anak muda di Indonesia yang antipati terhadap Pancasila. Mereka lebih memikirkan hal yang bersifat materiil ketimbang ideologis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya ingat itu tahun '80an Pancasila sempat dilecehkan. Ada orang ditanya, 'Pancasila itu apa?' dia bilang, 'Satu, baju loreng-loreng. Dua, mukul-mukul saya. Tiga, maksa-maksa saya. Empat', apa gitu saya lupa. Ini kan menjadi pemaknaan Pancasila saat itu," tuturnya.

Menurutnya kini sudah saatnya pendidikan Pancasila tidak lagi membahas hal-hal yang sifatnya konstruktif, tetapi harus riil terhadap perkembangan masyarakat. Menjadi tantangan negara apabila pendidikan Pancasila sudah tidak diminati anak bangsa.

Sementara itu akademisi sekaligus aktivis Reform Institute, Yudi Latief menyatakan bahwa menjalankan Pancasila harus disertai dengan semangat gotong-royong. Pembicaraan mengenai Pancasila pun harus dilakukan tanpa memandang jabatan dan status sosial seseorang.

"Pancasila sebagai ideologi harus dikembangkan menjadi Pancasila sebagai ilmu, Pancasila harus bisa diobjektivikasikan ke dalam premis-premis keilmuan," paparnya.



(bpn/lh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads