Mitos Obat Kuat Bikin Badak di Ambang Punah

Menangkal Perburuan Cula Badak

Mitos Obat Kuat Bikin Badak di Ambang Punah

Hardani Triyoga - detikNews
Selasa, 01 Okt 2013 12:41 WIB
Mitos Obat Kuat Bikin Badak di Ambang Punah
Foto: WWF-Indonesia
LAMPUNG -

Besarnya permintaan cula badak di pasar gelap sebagai bahan obat tradisional hingga koleksi ornamen seni eksklusif membuat satwa langka ini menjadi sasaran utama perburuan. Akibatnya badak Sumatera di sejumlah taman nasional seperti Gunung Leuser tidak aman dari ancaman perburuan.

Koordinasi Lapangan Yayasan Leuser Internasional Aceh-Sumatera Utara, Tarmizi mengatakan tidak bisa dipungkiri badak Sumatera banyak diburu demi culanya. Para pelaku selain masyarakat lokal juga dari luar seperti Vietnam dan Thailand.

Selama ini masih ada anggapan kalau cula badak dicari karena bermanfaat bagi obat kuat dan kanker. “Saya gak tahu itu karena enggak merasakan. Tapi, yang pasti kalau dijual harganya sangat mahal di pasar gelap,” kata Tarmizi saat dihubungi detikcom, kemarin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mencontohkan keberadaan badak Sumatera di Sabah, Malaysia, yang diambang kepunahan dan tinggal tersisa dua ekor karena diburu menjadi bukti betapa cula sangat dicari. "Memang banyak pemburu mengincar keberadaan badak Sumatera di Taman Nasional Gunung Leuser."



Dibandingkan taman nasional di Way Kambas dan Bukit Barisan Selatan, wilayah Leuser lebih mudah untuk perburuan karena wilayah yang luas serta pengawasan yang cenderung longgar. “Makanya kami November 2012 bentuk tim Rhino Protection Unit (RPU) Leuser karena semakin banyak orang yang berburu dengan bantuan masyarakat lokal untuk cari cula badak,” ujarnya.

Direktur Eksekutif International Rhino Foundation, Susie Ellis, mengatakan kawasan Asia terutama Cina dan Vietnam merupakan pasar gelap tertinggi dalam praktik jual beli cula badak. Hal ini membuat keberadaan badak di taman nasional Indonesia ikut terancam.

Ia menyebutkan untuk badak Jawa di Indonesia populasinya cenderung stabil. Namun, untuk badak Sumatera cenderung menurun. “Jumlah badak yang ada menjadi tantangan untuk bisa bertambah,” kata Susie di Way Kambas, Jumat (27/9).

Susie menambahkan saat ini Afrika masih tertinggi angka perburuan badaknya. Negara seperti Zimbabwe dan Afrika Selatan termasuk tinggi angka perburuan liar badak.

Kadang menurutnya, sebagian pemburu membunuh badak dengan cara sadis yaitu menembak dengan senapan kaliber besar. “Itu sangat memprihatinkan. Jangan sampai Indonesia seperti itu,” ujarnya dengan raut wajah cemas.

Kepala Humas dan Kerja Sama Taman Nasional Way Kambas, Sukatmoko mengatakan cula dianggap punya nilai jual tinggi karena adanya mitos sebagai obat tradisional di Cina. Meski yang ia ketahui berdasarkan penelitian tidak ada bukti yang mengarahkan cula badak bermanfaat untuk dunia kedokteran.

Namun, yang pasti cula badak digunakan sebagai senjata satwa langka itu untuk menghadapi musuh bila dalam keadaan terdesak. “Dia memang pemalu. Tapi, kalau terdesak naluri liar hewannya akan keluar da menyerang memakai tanduk culanya,” jelas Sukatmoko kepada detikcom di Way Kambas.

(brn/brn)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads