Angka 13 pasti bukan angka sial, tetapi justru keberuntungan. Hal ini berkaitan dengan rangkaian kegiatan APEC di beberapa kota di Indonesia yang kini berpuncak pada KTT APEC di Bali. Setelah 19 Tahun KTT APEC berlalu dari kota hujan Bogor, Indonesia kembali memimpin 21 Ekonomi anggotanya.
Selama hampir dua dasawarsa, suka dan duka dalam dinamika perekonomian kawasan maupun global terus menggelora. Tak terasa, dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan serta semakin kokohnya kerjasama di antara 21 Ekonomi yang merupakan tulang punggung ekonomi dunia ini, berbagai aral melintang telah dilewati dan aneka keberhasilan telah diraih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hebatnya lagi, tercatat sebagai preseden, tarif rata-rata di kawasan telah turun dari 16,9 % (1989) menjadi 5,7 % (2011). Selain itu, hambatan non-tarif juga mengalami penurunan secara signifikan di seluruh kawasan, yang sebagian besar sejalan dengan langkah-langkah World Trade Organization (WTO). Bahkan, PDB per kapita kawasan ini juga meroket dari US$7.934 pada 1989 menjadi US$ 13.247 pada 2010.
Β
Tentu saja, keberadaan APEC telah memberikan sumbangsih yang nyata bagi bangsa Indonesia. Total perdagangan Indonesia dengan Ekonomi APEC tahun 2011 misalnya, mencapai US$ 289,3 miliar, atau meningkat hampir 10 kali lipat jika dibandingkan pada saat APEC dicanangkan yaitu kisaran US$ 29,9 miliar. Indonesia juga merasakan manfaat dari proyekproyek pelatihan teknis untuk meningkatkan kapasitas perekonomian.
Walaupun begitu, di tengah perkembangan global yang sangat dinamis saat ini, pertumbuhan perekonomian yang cukup tinggi saja ternyata tidak otomatis menghapus beberapa tantangan ekonomi yang terdapat di kawasan. Dalam beberapa waktu belakangan, ekonomi dunia kembali meriang. Sebuah bahan diskusi para pemimpin dalam pertemuan di Bali.
(rmd/rmd)











































