Meski hanya 1 kasus dari 30 kasus kejahatan yang ditampung Sektor 2 Daker Makkah, namun modus ini sebaiknya menjadi pelajaran agar calon jamaah haji tidak mudah percaya begitu saja dengan orang baru dikenal.
Jamaah haji yang tinggal di sektor 2 ini sebanyak 24 ribu dari 66 kloter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia manyesalkan pelaku kejahatan itu orang Indonesia yang mencari kesempatan di musim haji ini.
"Yang hilang Dapih (kartu identitas), uang 600 riyal dan Rp 27 juta. Ke depan, sebaiknya kartu identitas petugas haji dimusnahkan saja setelah selesai bertugas agar tidak disalahgunakan," ujar pria berkaca mata ini.
Jauharuddin mengatakan modus kejahatan lainnya yakni perampasan tas jamaah haji, seperti yang dialami jamaah haji asal Maluku.
"Kasus terakhir sudah tawaf nangis luar biasa, sai dia tidak nangis. Ada yang menyapa, tas dirampas. Pelaku orang Indonesia. Rp 11 juta dan 2.650 riyal hilang. Ada juga Ibu Halimah saat salat di Maqom Ibrahim tasnya dikalungi di leher dan diambil dari belakang sama laki-laki, orang Indonesia juga. Hilang Rp 5 juta," papar Jauharuddin.
Pria asli Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) ini mengimbau agar jamaah haji senantiasa berhati-hati.
"Jangan bawa uang banyak-banyak. Secukupnya saja. Sebaiknya pemondokan juga diwajibkan menyediakan tempat penyimpanan uang," kata dia.
(aan/rmd)











































