Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Dwi Priyatno mengatakan peledakan di pos polisi berbeda dibanding yang biasa dilakukan jaringan teroris. Pelakunya bukan seorang profesional, hanya tidak suka dengan polisi.
"Prinsipnya aksi teror, tapi lebih jelasnya setelah penangkapan. Dari modus operandi, pelaku tidak profesional, mungkin orang yang benci polisi saja," kata Dwi di Mapolda Jateng, Jalan Pahlawan, Semarang, Jumat (27/9/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga saat ini, pria tersebut belum tertangkap dan pihak kepolisian masih terus melakukan pencarian. Dwi menambahkan, pihaknya berkoordinasi dengan Densus 88 untuk mengungkap kasus tersebut.
"Kami dalam pengungkapan kasus koordinasi dengan Densus. Yang kami curigai masih dicari, tapi sampai sekarang belum ketemu. Kemungkinan besar tidak ada jaringan teroris, tapi tetap aksi teror," jelas Dwi.
"Tim kami terus bekerja untuk mengungkapnya," imbuhnya.
Peledakkan terjadi pada Senin, 16 September 2013 lalu. Dalam rekaman CCTV yang berada di sebelah Barat pos, terlihat pria berkemeja terang berjalan menuju lokasi sumber ledakan pukul 19.04 WIB. Ia berjalan dengan tenang dan sesekali melihat ke arah pos. Beberapa saat kemudian ia kembali melintas di depan CCTV meninggalkan lokasi. Lalu pada pukul 19.40 WIB, ledakan disertai percikan api terjadi.
Selain itu, CCTV lain yang diletakkan di atas pos merekam pengendara motor yang berhenti lalu pergi beberapa saat sebelum kejadian. Dari hasil penyelidikan dan barang bukti yang dikumpulkan di lokasi kejadian, peledak berjenis low explosive dan diperkirakan berbentuk tabung dengan sumbu. Bahan peledak mengandung klorat dan sulfur.
(alg/trw)











































