Perjuangan Endin mengejar impian membuahkan hasil. Pria asal Banten itu kini bekerja sebagai petugas kebersihan di Masjidil Haram, Makkah. Saat ini jutaan calon jamaah haji mulai membanjiri masjid terbesar di dunia itu.
"Saya dikontrak bekerja 2 tahun dan sudah berjalan 1 tahun 6 bulan bekerja. Meski saya hanya lulusan SD, saya yakin di mana ada kemauan pasti ada jalan," kata Endin saat ditemui di Masjidil Haram, pada Kamis 26 September 2013.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama di perantauan, Endin juga mengalami suka dan duka. "Saya bersyukur bisa bekerja sambil ibadah. Saya sudah 1 kali haji dan setiap libur saya berangkat umrah dan thawaf sunah," kata Endin.
Di sela-sela bertugas, Endin berupaya semaksimal mungkin turut membantu jamaah haji Indonesia yang tersesat dan terlepas dari rombongan. "Saya coba membantu menunjukkan arah pintu-pintu yang jamaah haji tuju," kata dia.
Pengalaman serupa juga disampaikan Rafei (31) yang bekerja di gudang reparasi peralatan-peralatan yang rusak di Masjidil Haram.
"Saya baru 9 bulan bekerja dan tinggal di mess gratis," kata pria yang mengenakan seragam biru tua itu.
"Di sela tugas, saya berusaha membantu jamaah haji Indonesia yang tersesat arah. Mereka kan saudara setanah air apalagi kebanyakan yang tersesat sudah uzur, kasihan. Saya jadi ingat orang tua di kampung," kata Rafei.
Kadaker Makkah Arsyad Hidayat tidak kenal lelah bahkan turun langsung meminta agar warga Indonesia yang bekerja di areal Masjidil Haram ikut berpartisipasi membantu menunjukkan arah jalan bagi jamaah tersesat.
Dengan begitu, jamaah tersesat bisa segera terbantu dan kembali ke pemondokan.
(aan/nrl)










































