Diana Pulang, Lumpuh, dan Sekarat

Pulangnya TKI Ilegal (4)

Diana Pulang, Lumpuh, dan Sekarat

- detikNews
Jumat, 05 Nov 2004 11:33 WIB
Dumai - Dari ribuan TKI yang kembali ke tanah air, Diana warga Sumatera Selatan masih terbaring di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dumai, Riau. Sudah sepekan dia terbaring tanpa mendapat bantuan dana dari Pemerintah Provinsi dan Pemko Dumai. Mantan buruh di restoran itu mengalami kelumpuhan. Berikut cerita duka Diana. Bersyukurlah bagi TKI yang pulang dengan sedikit membawa uang. Mereka bisa langsung kembali ke kampung halamannya untuk kembali bercengkrama melepas kerinduan yang sudah bertahun-tahun terpendam. Di hari lebaran ini, TKI itu bisa berkumpul kembali bersama sanak saudara mereka.Tapi, nasib apes menimpang Diana (33) wanita berbadan gelap itu. Sejak 29 Oktober lalu, dia termasuk salah satu orang yang lebih awal meninggalkan Malaysia bersama ratusan TKI ilegal lainnya. Setelah menginjakkan kaki di tanah airnya, Diana tidak bisa langsung pulang ke kampung halamannya di Sumatera Selatan. Dia mesti dibopong rekan-rekan TKI lainnya untuk dibawa ke RSUD Dumai. Dia tidak mampu berjalan karena kondisi fisiknya yang lumpuh.Kondisi bandannya yang lemah, kedua kakinya yang kaku dan kedua tangannya yang sulit begerak memaksa dia mesti terbaring tanpa baju di bangsal kelas III RSUD Dumai. Di ruangan itu setidaknya ada 7 tempat tidur untuk mereka yang sakit. Tapi, saat detikcom menjenguknya, Diana hanya sendirian di ruang ukuran 12x12 m itu.Tangan kirinya terpasang jarum infus yang sudah 4 hari tergantung di sebelah ranjang tidurnya. Badannya yang kurus tidak lagi berbelit baju, terkecuali selimut putih yang mulai kumal. Sebuah selang juga terpasang untuk mengalirkan air seninya. Maklum Diana yang giginya ompong itu tidak bisa bergerak.Susah diajak dialog. Itulah yang dialami salah saorang TKI ilegal itu. Tatapan matanya menerawang jauh seakan ingin kembali segera ke pangkuan sanak keluarganya di Sumsel. Dengan nafas yang tersengal-sengal dan tatapan bola matanya yang hampa, sedikit demi sedikit Diana bertutur apa yang dia inginkan. β€œDi Dumai ini ada saudara saya. Tolong lah panggilkan dia,” katanya dengan terpatah-patah.Walau suaranya parau dan sulit untuk dimengerti, Diana tetap mau bercerita. Dari penuturannya itu, Diana mengaku penyakit yang dideritanya itu sudah dia alami empat bulan lalu. Dia juga tidak mengetahui apa penyebab penyakitnya itu. Yang jelas, sebelum kembali ke tanah air, dia mengaku sudah empat bulan dirawat di KBRI di Kuala Lumpur, Malaysia.Tahun 1998 silam, merupakan awal baginya untuk nekat merantau ke negeri sebarang. Jebolan SD itu, pergi lewat jalur gelap bersama 5 orang rekan sekampungnya. Setiba di Malaysia, Diana pun berpisah dengan rekan-rekannya tadi. Mereka sibuk masing-masing untuk mencari pekerjaan di negeri jiran itu.Sempat 1 bulan menganggur dan menumpang makan di tempat para TKI lainnya. Diana yang mengaku sudah mengalami penyakit asma sejak kecil itu, akhirnya bekerja di sebuah restoran sebagai pencuci piring. Gajinya yang tidak seberapa membuatnya bertahan selama 6 tahun di Malaysia.Entah bagaimana cerita, penyakit menimpa dirinya. Lewat rekan-rekan TKI yang masih memiliki rasa kebersamaan, Diana diantar kepada pihak KBRI. Diana pun mengaku sempat dirawat ala kadarnya. Namun, makin hari Diana makin tak berdaya. Belakangan, akhirnya KBRI membawa Diana ke Dumai dalam kondisi sekarat.Selama di RSUD Dumai, wanita asal Lubuk Linggau Sumsel itu sama sekali tidak mendapat dana bantuan dari Pemko Dumai dan Pemerintah Provinsi Riau. Meski ntidak ada dana tersebut, pihak RS masih memiliki rasa kemanusiaan. Diana pun mereka rawat seadanya. Sejumlah staf di RUSD Dumai itu mengaku akan segara membuat surat miskin untuk pasiennya yang tak berdaya itu. Surat miskin ini akan mereka layangkan ke Pemko Dumai atau Pemprov Riau agar bersedia mengeluarkan dana untuk pemulangan Diana ke daerah asalnya nan juah dari Riau itu.Sementara itu, Direktur RSUD Dumai Arijal kepada detikcom mengaku belum mengetahui diagnosa penyakit Diana itu. Tapi, hasil pemeriksaan sementara, wanita berambut pendek itu mengalami penyakit terta ferase, sebuah gelaja penyakit kelumpuhan. Sebab, kedua kaki dan tangan kaku dan sulit untuk digerakkan. β€œKita akan lakukan penyembuhan semaksimal mungkin. Kita juga telah melaporkan kasus Diana ini ke Departemen Kesehatan di Jakarta,” kata Arijal.Selain gejala kelumpuhan, masih menurut Arijal, pasiennya itu juga mengalami depresi berat. Diana mengalami kerinduan berat untuk bisa berkumpul dengan sanak keluarganya. Tapi, demikian, sang dokter itu memprediksi penyakit kelumpuhannya sulit disembuhkan. Pun kelak Diana bisa sembuh, kalau tidak kaki maka kedua tangannya diperkirakan akan mengalami lumpuh total.Jalan satu-satunya untuk menyembuhkan kejiwaannya yang goncang itu, Diana memang harus segara dievakausi ke sanak familinya. Sebab, dengan demikian, Diana akan bisa melepas kerinduan yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak bercengkrama dengan saudaranya. β€œKita tengah berusaha mencari dana agar Diana kita kembalikan ke pangkuan keluarganya. Dengan itu mungkin kondisi jiwanya bisa kembali normal,” kata Arijal.Diana yang terbaring kaku itu, sempat mendapat kunjungan tim dari Departemen Kesehatan RI yang datang bersama kunjungan Presiden SBY ke Dumai, pada Rabu (3/11/2004) lalu. Tim ini juga sempat bingung melihat kondisi Diana yang dikembalikan dari Malaysia dengan keadaan sakit.Padahal, kata Dr Untung Susesno Sutarjo, Direktur Pelayanan Medik dan Gigi Dasar dari Jakarta itu, sudah ada kesepakatan antara Pemerintah RI lewat KBRI dengan Pemerintah Malaysia, bahwa TKI dalam kondisi sakit tidak diperbolehkan untuk dipulangkan.β€œAneh sekali, bila Diana dalam kondisi sakit justru dipulangkan. Mestinya menunggu sehat dulu, atau paling tidak sebelum parah harus segara dikembalikan. Bukan seperti ini, sudah sekarat,” kata Untung yang tak habis pikir atas pemulangan Diana itu. Syukurlah tim Dep Kesehatan RI ini berjanji akan mencarikan dana buat Diana agar segara pulang ke tanah kelahirannya.Sedangkan Duta Besar RI di Malaysia Rusdihardjo ketika diminta komentarnya tentang Diana itu, malah mengaku tidak mengetahiunya. Dia membantah bila Diana sempat dirawat pihak KBRI selama empat bulan. Menurut dia, tempat penampungan TKI tidak hanya di KBRI, tapi masih banyak lagi tempat yang lainnya. Sehingga, bisa jadi Diana salah pengertian, bahwa tempat dia dirawat itu merupakan KBRI. β€œDalam empat bulan terakhir ini, kita tidak pernah merawat TKI dalam kondisi sakit. Mungkin dia dirawat tempat lain, tapi menyebut-nyebut nama KBRI. Soalnya kan banyak TKI yang tidak paham soal KBRI ini,” kata Rusdi. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads